Agar Tahun Depan Tidak Impor Cangkul, Ini Strategi Teten Masduki

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja mencangkul gundukan tanah untuk membangun drainase air di kawasan Museum Fatahillah, Jakarta, Minggu (23/08). Pembangunan drainas ini untuk mengantisipasi meluapnya air pada musim hujan nanti. Foto: TEMPO/Dinul Mubarok

    Seorang pekerja mencangkul gundukan tanah untuk membangun drainase air di kawasan Museum Fatahillah, Jakarta, Minggu (23/08). Pembangunan drainas ini untuk mengantisipasi meluapnya air pada musim hujan nanti. Foto: TEMPO/Dinul Mubarok

    Tempo.Co, Jakarta - Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki mengatakan Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta untuk tidak impor cangkul lagi tahun depan. Karena itu, dia melakukan koordinasikan dengan pengrajin logam di berbagai daerah terutama di Jawa dan menghubungkan dengan bahan baku dari PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

    "Intinya sebenarnya kita sanggup membuat cangkul sesuai dengan kebutuhan dalam negeri," kata Teten di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu, 14 Desember 2019.

    Selain untuk membuat cangkul, pemerintah juga menghubungkan masyarakat dengan Krakatau Steel untuk persediaan alat pertanian sederhana. Nantinya, kata dia, masyarakat bekontribusi meningkatkan pembangunan infrastruktur dalam hal itu.

    Menurutnya, dengan begitu Indonesia siap memproduksi cangkul sesuai data kebutuhan cangkul dari Kementerian Perindustrian yang sebanyak 10 juta.

    Untuk pembiayaan, kata Teten, pemerintah sudah melibatkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Dia mengatakan BRI mau membiayai pengrajin logam yang masih peralatan sederana dan yang sudsh menggunakan mesin modern.

    Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan, sepanjang Januari hingga Oktober 2019 impor cangkul mencapai 292,44 ton.

    Data BPS yang dirilis Jumat, 15 November 2019, menunjukkan impor cangkul paling banyak berasal dari Cina dan Jepang dengan nilai secara keseluruhan sebesar US$ 106.127. Jika dihitung dengan kurs Rp 14.000 per dolar AS, nilai itu setara dengan Rp 1,49 miliar.

    Karena hal itu, Presiden Joko Jokowi menyayangkan banyak barang yang diimpor dari luar negeri padahal industri dalam negeri bisa memproduksi.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...