Realisasi Penerimaan Pajak Diprediksi Hanya 88,6 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Sosial Juliari Batubara dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberi penjelasan soal temuan maladministrasi Program Keluarga Harapan (PKH) oleh Ombudsman, Jakarta, Rabu, 11 Desember 2018. Foto: Istimewa

    Menteri Sosial Juliari Batubara dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberi penjelasan soal temuan maladministrasi Program Keluarga Harapan (PKH) oleh Ombudsman, Jakarta, Rabu, 11 Desember 2018. Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta -  Lembaga Riset Perpajakan DDTC (Danny Darussalam Tax Centre) memprediksi realisasi penerimaan pajak hingga akhir tahun akan berada di kisaran 86,3 persen sampai 88,6 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 Rp1.577,6 triliun.

    Ekonom Fiskal DDTC Fiscal Research Denny Vissaro mengatakan pihaknya memiliki tiga angka proyeksi terhadap penerimaan negara melalui pajak tersebut yang di antaranya adalah Rp1.361 triliun atau 86,3 persen dan Rp1.398 triliun atau 88,6 persen terhadap target APBN 2019

    “Dua angka pertama ini adalah range dengan anggapan bahwa berkaca dengan kinerja sistem pajak dari tahun lalu. Kami punya range dari proyeksi optimis dan juga pesimis,” katanya di Kawasan Cikini, Jakarta, Jumat 13 Desember 2019.

    Denny menuturkan kedua angka tersebut masuk dalam proyeksi skala optimis, sedangkan untuk pesimis ada di kisaran Rp1.318 triliun atau 83,5 persen terhadap target APBN 2019 dengan shortfall sekitar Rp259 triliun.

    Ia menjelaskan proyeksi pesimis itu dilandasi oleh perhitungan kinerja penerimaan pajak hingga kuartal III-2019 yaitu tercatat baru mencapai Rp1.018,47 triliun atau 64,5 persen dari target.

    “Kami juga mengaitkan dengan relevansi proses yang sedang on going sepanjang 2019,” ujarnya.

    Ia melanjutkan dari sisi kinerja penerimaan pajak juga melemah yaitu tax buoyancy atau elastisitas penerimaan pajak terhadap pertumbuhan ekonomi menurun dengan hanya 0,03 pada kuartal III-2019 atau lebih rendah dibandingkan kuartal sama pada 2018 yakni 1,6.

    “Kuartal II-2019 tax bouyancy 0,49 dan kuartal III-2019 ternyata mengalami pelemahan lagi tax buoyancy kita hanya 0,03 dibanding sebelumnya 1,6,” katanya.

    Tak hanya itu, terkait rasio pajak menurut Denny seharusnya pemerintah berpeluang untuk mendorong hingga mencapai sekitar 11 persen sampai 12 persen namun ternyata pada kuartal III-2019 kembali turun di bawah 10 persen yaitu 9,72 persen.

    "Ketika perdagangan dan harga komoditas turun, sayangnya kita tidak antisipasi cepat karena kita ada Pemilu di awal tahun. Barulah di semester kedua direspons ketika pemerintahan baru terbentuk," katanya.

    Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan mencatat hingga akhir November penerimaan pajak baru mencapai Rp1.136 triliun atau 72 persen dari target APBN 2019 yaitu Rp1.577,6 triliun yang berarti masih kurang sekitar Rp441 triliun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.