Luhut Pandjaitan Targetkan CAD Ditekan Hingga USD 2-3 Miliar

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan dalam coffee morning di Kantor Kemenko Kemaritiman, Jakarta Pusat, Selasa, 10 Desember 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan dalam coffee morning di Kantor Kemenko Kemaritiman, Jakarta Pusat, Selasa, 10 Desember 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan menargetkan defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia akan menyempit menjadi US$ 2-3 miliar dalam waktu dekat. Cara itu ditempuh melalui pelbagai upaya transformasi di sektor ekonomi.

    “Kita akan mengubah struktur ekonomi untuk mengurangi CAD dengan meningkatkan ekspor. Ini bukan wacana dan sedang jalan. Kemudian, kita akan memperkuat rupiah dan cadangan kita,” ujar dia kala menjadi pembicara pada Hari Wawasan Nusantara Indonesia ke-62 di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Jumat, 13 November 2019. 

    Adapun posisi CAD pada akhir 2018 mencapai US$ 31,1 miliar. Luhut mengatakan cara pertama yang dapat dilakukan untuk menekan CAD adalah dengan memperkuat ekspor baterai lithium ion. Saat ini Indonesia merupakan negara yang berpotensi menjadi penghasil baterai lithium ion terbesar.

    Indonesia, kata dia, memiliki bijih nikel dengan kadar rendah atau limonite berkandungan nikel 0,8-1,5 persen yang cocok untuk kandungan lithium baterai. Adapun lithium baterai adalah komponen bahan bakar mobil listrik.

    Menurut dia, harga lithium baterai dari Indonesia tergolong paling kompetitif. Saat ini, pabrikan lithium baterai di Morowali sudah mampu menawarkan harga 5 sen per kilowatt. Harga ini jauh lebih rendah ketimbang yang ditawarkan di Eropa dengan harga menapai 12 sen per kilowatt. 

    Selain mengekspor baterai lithium, Luhut mengatakan CAD ditekan dengan adanya penerapan program penggunaan bahan bakar B20, B30, hingga B100 yang menjadi cita-cita pemerintah.

    “Ini akan mengubah CAD kita single digit karena ada penggunaan B20 sampai B100,” ujarnya. Penggunaan bahan bakar biodiesel digadang-gadang akan mampu menekan impor minyak sehingga menekan transaksi neraca berjalan.

    Kemudian, Indonesia juga akan memperkuat ekspor stainless steel. Pada 2021, Luhut mengatakan Indonesia akan menjadi eksportir stainless steel terbesar. “Saat ini posisi ekspor kita sudah US$ 5,8 miliar,” ucap Luhut Pandjaitan.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.