Edhy Prabowo Sebut Ekspor Benih Lobster Belum Diputuskan

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Benih lobster yang akan diselundupkan di Jambi, 17 April 2019. Polisi berhasil mengagalkan upaya penyelundupan benis lobster senilai Rp 37 miliar. (Humas KKP)

    Benih lobster yang akan diselundupkan di Jambi, 17 April 2019. Polisi berhasil mengagalkan upaya penyelundupan benis lobster senilai Rp 37 miliar. (Humas KKP)

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo mengatakan bahwa wacana kebijakan untuk mengekspor benih lobster masih dalam didalami. Pemerintah masih melakukan kajian serta meminta masukan dari berbagai pihak terkait keputusan ini.

    "Ini memang belum kami putuskan karena baru dalam tahap pendalaman. Sebab ada 29 peraturan yang kami sedang rapikan. Kami minta masukan karena inilah yang salah satu menjadi polemik saat ini," kata Edhy dalam acara "Gelar Wisata Bahari" di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, Kamis 12 Desember 2019.

    Rencana KKP untuk memberikan izin ekspor bagi benih lobster sempat menuai kritik dari ekonom senior Universitas Indonesia Fasial Basri. Sebabnya, pembukaan kembali keran ekspor bayi lobster akan berpengaruh buruk, baik terhadap iklim dagang maupun lingkungan.

    Faisal memandang kebijakan itu bakal memberi celah mafia untuk bergerilya. "Ekspor benih lobster dulu sudah dilarang. Sekarang mau dibuka. Sudah gila apa ini," ujar Faisal dalam diskusi para pakar di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa, 10 Desember 2019.

    Edhy mengakui bahwa selama ini masih sering terjadi penyelundupan bayi lobster ini ke luar negeri. Karena itu, dia ingin membuka polemik tersebut untuk meminta masukan kepada seluruh pihak. Lagi pula, menurut dia, jika benih lobster tak dibudidayakan dan dibiarkan begitu saja akan mati. Sebab angka harapan kehidupannya hanya 1 persen.

    Selain itu, politisi Partai Gerindra ini juga menjelaskan bahwa masih ada masyarakat yang hidupnya bergantung pada mencari dan kemudian menjual benih lobster. Karena itu, bila kemudian secara tiba-tiba pemerintah melarang adanya penjualan lobster tentu masyarakat tersebut bisa kehilangan penghasilan.

    "Saya hanya fokus bagaimana mereka kerja dulu. Sebab, ribuan orang masih ada yang tergantung hidupnya dalam menjual bayi lobster ini. Hal inilah yang harus dulu dicari jalan keluarnya," ujar Edhy.

    Karena itu, ke depan Edhy menginginkan ada kebijakan KKP yang tidak saja mendukung lingkungan, tapi juga mampu mendorong perekonomian masyarakat. Selain itu, kebijakan tersebut bisa membuat perekonomian tetap berkelanjutan sejalan dengan lingkungan yang sama.

    "Intinya bagaimana nelayan yang mengambil benih lobster, nelayan ini nangkap lobster yang besar-besar tidak kehilangan pekerjaan. Dua sisi mata uang, dua mata sisi pedang ini harus saya temukan dalam satu kesempatan yang sama," kata dia.

    DIAS PRASONGKO | HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.