Kementerian BUMN Sebut Biosolar B30 Siap Diluncurkan Desember

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mengisi bahan bakar B30 pada kendaraan saat peluncuran road test B30 di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis, 13 Juni 2019. Pemerintah akan mewajibkan penggunaan campuran biodiesel 30% atau B30 pada kendaraan mulai tahun depan. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas mengisi bahan bakar B30 pada kendaraan saat peluncuran road test B30 di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis, 13 Juni 2019. Pemerintah akan mewajibkan penggunaan campuran biodiesel 30% atau B30 pada kendaraan mulai tahun depan. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara mengungkapkan penggunaan bahan bakar minyak solar dengan campuran 30 persen nabati sawit atau Biodiesel B30 akan diluncurkan pada Desember ini.

    "Diluncurkan Desember ini. Nanti kalau sudah dekat, akan saya beri tahu," ujar Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga di Jakarta, Selasa, 10 Desember 2019.

    Arya mengatakan peluncuran solar B30 tersebut dijadwalkan dilakukan Presiden Joko Widodo.

    Sebelumnya, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati didampingi Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama menemui Presiden Joko Widodo guna membahas perkembangan industri energi dan petrokimia, salah satunya kesiapan program Bodiesel B30.

    Nicke menyampaikan Pertamina sudah siap mendistribusikan B30 di semua terminal bahan bakar minyak (TBBM) dan SPBU di seluruh Indonesia.

    Sementara itu, sejak awal Desember 2019, PT Pertamina Marketing Operation Region II Sumbagsel sudah mulai mengimplementasikan penyaluran Biodiesel B30 ke beberapa TBBM di Sumatera Selatan dan Lampung.

    Hal tersebut untuk memastikan mekanisme penyaluran mulai dari penerimaan bahan baku, proses blending, dan distribusi ke SPBU sudah bisa berjalan dengan baik pada Januari 2020.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?