BI: Defisit Transaksi Berjalan Bakal USD 31 Miliar di Akhir Tahun

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo saat ditemui awak media usai mengikuti salat Jumat di masjid Kompleks Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat, 28 Juni 2019. Tempo/Dias Prasongko

TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia menyebut sampai akhir tahun posisi current account defisit (CAD) atau defisit transaksi berjalan dalam Neraca Pembayaran Indonesia bakal berada pada level US$ 30 miliar hingga US$ 31 miliar. Angka ini setara dengan rasio 2,7 - 2,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan rasio CAD antara 2,7-2,8 persen dari PDB merupakan posisi yang reliabel bagi perekonomian. "Yang penting defisit itu bisa dikelola, dan ditutup dengan aliran modal asing yang datang," ujar Dody dalam acara "Seminar Outlook 2010" di Gedung Bursa Efek, Jakarta Selatan, Selasa 10 Desember 2019.

Apalagi, lanjut Dody, saat ini banyak investor asing yang terus datang dan menanamkan modalnya ke emerging market, termasuk ke Indonesia. Hal ini karena imbal hasil atau return investasi di negara maju saat ini lebih rendah jika dibandingkan di negara berkembang.

Kondisi ini sejalan dengan proyeksi tingkat suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) yang diproyeksi masih bakal bertahan di bawah secara berkelanjutan (lower for longer). Dengan tingkat suku bunga acuan yang rendah, membuat investor tak tertarik berinvestasi di negara maju seperti Amerika Serikat dan di Eropa.

Kepala Ekonom Bank DBS Masyita Crystallin menilai defisit transaksi berjalan (CAD) tidak boleh dibiarkan terus melebar dengan beban impor yang tinggi. Hal ini perlu dilakukan jika pemerintah tetap menargetkan pertumbuhan ekonomi berada di sekitar angka 5,5-6 persen.

"Indonesia juga harus memiliki current account deficit yang friendly (ramah) untuk dapat mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5-6 persen di atas potensi, sehingga dapat keluar dari middle income trap," ujar Masyita mengenai prospek ekonomi 2020 di Jakarta, Kamis 5 Desember 2019, seperti dikutip Antara.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi sebelumnya menyebutkan salah satu alasan mengapa kondisi CAD terus melebar adalah banyaknya pihak yang senang melakukan impor minyak. Dia menilai faktor tersebut membuat persoalan CAD menjadi sulit untuk diselesaikan.

Menurut Jokowi, wajar banyak yang senang dengan impor minyak karena mudah dan untungnya besar. "Bisa dibagi ke mana-mana," ujar Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 2 Desember 2019.

AHMAD FAIZ






Rupiah Jeblok ke 15.266 per Dolar AS, BI: Inflasi di Emerging Market Tak Sebesar Negara Maju

3 jam lalu

Rupiah Jeblok ke 15.266 per Dolar AS, BI: Inflasi di Emerging Market Tak Sebesar Negara Maju

Bank Indonesia (BI) angkat bicara menanggapi jebloknya nilai tukar rupiah belakangan telah tembus ke 15.266 per dolar AS.


Utang Pemerintah Naik, Kini Tembus Rp 7.236,61 Triliun

4 jam lalu

Utang Pemerintah Naik, Kini Tembus Rp 7.236,61 Triliun

Utang pemerintah hingga posisi akhir Agustus 2022 telah sebesar Rp 7.236,61 triliun. Angka itu naik sekitar 1,01 persen atau Rp 73,49 triliun dari posisi Juli 2022 sebesar Rp 7.163,12 triliun.


Defisit APBN Tahun Depan 2,48 Persen, PKS Ingatkan Sri Mulyani soal Tumpukan Utang

1 hari lalu

Defisit APBN Tahun Depan 2,48 Persen, PKS Ingatkan Sri Mulyani soal Tumpukan Utang

Proyeksi defisit APBN ini lebih rendah dari rancangannya yang sebesar 2,85 persen.


Banggar DPR dan Sri Mulyani Sepakati RAPBN 2023, Defisit Rp 598,2 Triliun

1 hari lalu

Banggar DPR dan Sri Mulyani Sepakati RAPBN 2023, Defisit Rp 598,2 Triliun

Sri Mulyani mengatakan Rancangan APBN 2023 akan dibawa ke pembicaraan tingkat II untuk disetujui dalam sidang paripurna.


Layanan BI Fast Tahap IV Gandeng 10 Mitra Bank, Apa Saja?

1 hari lalu

Layanan BI Fast Tahap IV Gandeng 10 Mitra Bank, Apa Saja?

Sepuluh mitra bank resmi menjadi peserta BI Fast tahap IV melalui Multi-tenancy Infrastruktur Sharing PT Rintis Sejahtera.


OJK Beberkan Syarat Pertahanan 3 Lapis Agar Industri Jasa Keuangan Tetap Sehat

4 hari lalu

OJK Beberkan Syarat Pertahanan 3 Lapis Agar Industri Jasa Keuangan Tetap Sehat

OJK mendorong penguatan pertahanan tiga lapis untuk mewujudkan industri keuangan yang sehat, tumbuh, serta mengutamakan perlindungan konsumen.


Target Transaksi Solo Great Sale 2022 Rp 2 Triliun, Ada Lelang Mobil Bekas Jokowi

4 hari lalu

Target Transaksi Solo Great Sale 2022 Rp 2 Triliun, Ada Lelang Mobil Bekas Jokowi

Solo Great Sale 2022 atau SGS 2022 bakal dibuka mulai Ahad, 25 September 2022. Target transaksi dalam SGS yang semula dipatok senilai Rp 1,3 triliun, dinaikkan jadi Rp 2 triliun


Bank Indonesia: Modal Asing Keluar Rp 3,53 T Pekan Ini, Terbanyak dari SBN

5 hari lalu

Bank Indonesia: Modal Asing Keluar Rp 3,53 T Pekan Ini, Terbanyak dari SBN

Bank Indonesia mencatat, aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan dalam negeri terjadi selama sepekan ini. Terutama dari pasar surat berharga negara (SBN).


Bank Indonesia Prediksi Inflasi September 1,1 Persen, BBM dan Tarif Angkutan Penyumbang Utama

5 hari lalu

Bank Indonesia Prediksi Inflasi September 1,1 Persen, BBM dan Tarif Angkutan Penyumbang Utama

Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi pada September 2022 mencapai 1,10 persen dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm).


Suku Bunga BI Naik Agresif, Pengusaha: Ekonomi dan Daya Beli Turun, Inflasi Semakin Tinggi

5 hari lalu

Suku Bunga BI Naik Agresif, Pengusaha: Ekonomi dan Daya Beli Turun, Inflasi Semakin Tinggi

Pengusaha memperkirakan tingkat inflasi tetap tinggi meski kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia agresif.