Aceh Beli 4 Unit Pesawat N219 Buatan PTDI Senilai Rp 336 Miliar

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo saat prosesi pemberian nama pesawat N219 di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, 10 November 2017. TEMPO/Subekti

    Presiden Joko Widodo saat prosesi pemberian nama pesawat N219 di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, 10 November 2017. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Bandung - Pelaksana Tugas (PLT) Gubernur Aceh Nova Iriansyah menandatangani naskah kesepahaman tentang rencana pembelian 4 unit pesawat N219  dengan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Elfien Goentoro, hari ini, Senin, 9 Desember 2019. “Nota kesepahaman ini akan segera beralih menjadi kontrak. Dari empat pesawat itu, satu akan dikirimkan pada 2021, dan tiga pada 2022,” kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Elfien Goentoro, di Bandung, Senin, 9 Desember 2019.

    Elfien mengatakan, pesawat perintis N219 yang dinamai Presiden Joko Widodo dengan nama Nurtanio itu ditargetkan akan memperoleh Type Certificatae (TC) dari Kementerian Perhubungan akhir tahun ini. Selepas mengantungi sertifikasi itu, pesawat N219 akan mulai memasuki fase produksi. “Mudah-mudahan tidak menggeser,” kata dia.

    Elfien mengatakan, naskah kesepahaman yang akan menjadi bahan kontrak tersebut tidak melulu berisi soal pembelian pesawat N219. “Yang diharapkan dari pemerintah Aceh yaitu adanya pengembangan sumber daya manusia, dan pengembangan dari pengoperasian pesawat itu sendiri. Jadi ini merupakan bagian dari kontrak yang tidak terpisahkan, yang akan segera kita realisasikan,” kata dia.

    Elfien mengatakan, rencananya di tahap pertama PTDI akan menyiapkan kapasitas produksi untuk 6 unit pesawat N1219 di tahun pertama, sebelum kapasitasnya dinaikkan bertahap. “Kami punya fasilitas yang eksisting bisa 6 (unit). Jadi nanti sedang direncanakan untuk membangun fasilitas yang bisa (produksi) 36 pesawat per tahun,” kata dia.

    Elifien mengatakan, selain Aceh, Papua juga sudah serius membeli pesawat N219 yang dikembangkan PT Dirgantara Indonesia bersama Lapan. Kedua provinsi itu bersaing menjadi pembeli pertama pesawat N219. “Memang permintaan pemerintah Aceh untuk menjadi deliver pertama, juga termasuk pemerintah daerah Papua yang sudah tanda-tangan. Ini jadi target PT DI setelah memproduksi yang pertama,” kata dia.

    Direktur Niaga PT Dirgantara Indonesia, Ade Yuyu Wahyuna mengatakan, harga penjualan pesawat N219 untuk pemerintah Aceh itu menembus 6 juta Dollar AS per unit. “Skema pembayarannya, kami ngikutin sumber anggarannya yaitu APBA (Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh). Nanti ada tahapan-tahapan sesuai dengan progres produksi,” kata dia, Senin, 9 Desember 2019.

    Pelaksana Tugas (PLT) Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengatakan, naskah kesepahaman yang diteken hari ini, Senin, 9 Desember 2019, merupakan pembaruan dari naskah kesepahaman rencana pembelian pesawat N219 yang sebelumnya ditandatangani oleh Gubernur Aceh Irwansyah dengan PT Dirgantara Indonesia di Singapura tahun 2018 lalu. “Kami perbarui MOU tahun 2018, karena ada beberapa hal yang memang harus disesuaikan dengan kondisi terkini,” kata dia, Senin, 9 Desember 2019.

    Nova membenarkan harga pembelian pesawat itu menembus US$ 6 juta per unit. Pembelian itu akan dibayarkan multiyears dengan APBA, anggaran belanja pemerinah Aceh dalam dua tahun. “Rp 84 miliar kurang lebih,” kata dia.

    Nova mengatakan, tahun 2022 pesawat N219 itu diharapkan sudah dimiliki Aceh. “Kalau kebutuhan ideal, tentu banyak. Tapi kita berharap 2022 bisa 4 (unit) dulu, seseuai dengan kemampuan keuangan daerah,” kata dia.

    Dia mengaku, sempat terjadi kontroversi atas rencana pembelian pesawat oleh pemerintah Aceh tersebut.  Nova beralasan, akselerasi pembangunan Aceh butuh pengembangan moda transportasi.

    Aceh mempunyai luas 59 ribu kilometer persegi. Jarak tempuh kendaraan darat bisa menembus belasan jam. Aceh dengan panjang garis pantai menembus 2.600 kilometer, juga tidak melulu daratan. “Dengan total 180 gugusan pulau. Dan dari semua pulau itu 44 pulau diantaranya berpenghuni. Wilayah yang sangat luas itu jadi tantangan,” kata dia.

    Dia mengaku, Aceh tidak hanya membeli 4 unit pesawat N219 untuk membangun konektivitas udara, tapi juga 3 unit kapal RoRo untuk membangun konektivitas pelayaran antar pulau. “Tahun ini 3 kapal penyeberangan RoRo kita pesan, dari Bangkalan dan Tanjung Balai Karimun, dengan Anggaran Pendapatan dan Belanca Aceh, atau APBA. Insya Allah itu multiyears, kontrak 2 tahun. Bulan April 2020 nanti sudah kita terima,” kata Nova.

    Nova mengatakan, pesawat N219 pertama yang akan diterima Aceh itu akan digunakan sebagai Ambulan Terbang. “Kita di Aceh menjamin kesehatan masyarakat, bahkan di pelosok-pelosok. Kemarin-kemarin kita harus rental pesawat,” kata dia.

    Pesawat itu juga akan dimanfaatkan untuk mengawasi wilayah Aceh untuk mencegah perambahan hutan. “Banyak pencurian kekayaan alam kita terjadi di laut, dan ilegal loging karena garis pantai begitu panjang, wilayah yang begitu luas,” kata Nova.

    Nova mengatakan, Aceh juga menimbang untuk membangun layanan transportasi pesawat komersial bagi warganya untuk mendukung  konektivitas dengan keberadaan 7 bandara yang tersebar di seluruh wilayahnya. “Pesawat perintis paling pas untuk kondisi geografi dan alam daerah itu N219,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.