AirNav Indonesia Kucurkan Rp 173 M Benahi Navigasi di Papua

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau AirNav Indonesia melakukan pemantauan lalulintas penerbangan di Tower Airnav, Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Rabu, 25 September 2019. TEMPO/Subekti.

    Petugas Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau AirNav Indonesia melakukan pemantauan lalulintas penerbangan di Tower Airnav, Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Rabu, 25 September 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia atau AirNav Indonesia mengalokasikan investasi sebesar Rp 173,64 miliar untuk navigasi penerbangan di Papua.

    Direktur AirNav Indonesia Novie Riyanto menyatakan ada 109 titik bandara yang menjadi perhatian di Papua, tiga di antaranya merupakan bandara pengumpul (hub) yakni Jayapura, Timika, dan Wamena.

    "Papua menjadi salah satu fokus kami. Pergerakan pesawat di sana cukup padat jika dibandingkan dengan kapasitas bandaranya," katanya, Kamis, 5 Desember 2019.

    Dia mencontohkan Bandara Wamena memiliki pergerakan hingga di atas 100 pergerakan per hari. Jumlah ini hampir mendekati pergerakan pesawat di Bandara Kuala Namu Medan, tetapi dengan kapasitas bandara yang lebih kecil.

    Nantinya, selain bandara hub juga ada bandara yang dijadikan penghubung, yakni Bandara Nop Goliat Dekai di Yahukimo. Bandara yang memiliki posisi di pesisir pantai sangat strategis untuk menghubungkan Tol Laut.

    Novie menjelaskan barang yang dibawa menggunakan jalur Tol Laut akan langsung bisa didistribusikan ke wilayah lain menggunakan jembatan udara melalui Bandara Dekai. Dengan demikian, pergerakan logistik dan penumpang ke wilayah pedalaman tidak terputus.

    Selain infrastuktur navigasi, SDM juga dipersiapkan. AirNav Indonesia bekerja sama dengan diklat dari Kemenhub untuk mendidik putra daerah menjadi petugas lalu lintas udara (air traffic controller/ATC), engineer, dan petugas komunikasi yang ditempatkan di Papua. "Mereka akan jadi pionir di sana. Mereka kita biayai dan pekerjakan secara profesional," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!