Bonus Demografi Dianggap Solusi Atasi Jebakan Pendapatan Menengah

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara memberikan sambutan dalam acara Indonesia Banking Expo 2019 di Jakarta, Rabu, 6 November 2019. ANTARA

    Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara memberikan sambutan dalam acara Indonesia Banking Expo 2019 di Jakarta, Rabu, 6 November 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan bonus demografi Indonesia merupakan potensi besar sebagai salah satu solusi keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.

    "Untuk sektor tenaga kerja, kita tidak perlu khawatir dengan kuantitas tapi kualitasnya yang perlu dipikirkan," katanya saat membuka Forum Internasional Tahunan Kebijakan Publik dan Pembangunan Ekonomi (AIFED) ke-9 di Nusa Dua, Bali, Kamis, 5 Desember 2019.

    Menurut dia, bonus demografi yang dimiliki Indonesia sebagai modal dari sumber daya manusia sehingga menjadi prioritas untuk ditingkatkan kualitasnya pada pemerintahan kedua Presiden Jokowi.

    Pada periode pemerintahan kedua Jokowi 2019-2024, pembangunan SDM menjadi prioritas untuk mendukung ekonomi Indonesia, selain melanjutkan infrastruktur dan reformasi birokrasi dan penyederhanaan regulasi.

    Dalam pemaparannya, Suahasil mengungkapkan penguatan SDM dilakukan dengan menjamin kesehatan sejak masa kehamilan untuk mencegah stunting hingga kualitas pendidikan.

    Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020, dari Rp 2.540 triliun belanja negara, lima persen di antaranya untuk kesehatan dan 20 persen untuk pendidikan.

    Pemerintah juga memberikan insentif pajak kepada dunia usaha yang berkontribusi memberikan pelatihan kepada SDM.

    Dengan begitu, ada SDM Indonesia memiliki kemampuan dan mendapatkan alih teknologi dari perusahaan asing dan dalam negeri yang beroperasi di Tanah Air.

    Dalam pemaparannya itu, Suahasil juga mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) 2015 yang menyebutkan kualitas tenaga kerja di Indonesia masih rendah. Statistik itu menyebutkan sekitar 60 persen pekerja memiliki latar belakang pendidikan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

    Untuk itu, meningkatkan produktivitas tenaga kerja di sektor manufaktur merupakan hal yang penting. Sebab, sektor itu menghasilkan pendapatan atau produktivitas tinggi.

    Kementerian Keuangan memproyeksikan prospek Indonesia pada 2024 dengan jumlah penduduk mencapai 319 juta dengan 47 persen merupakan usia produktif.

    Kemenkeu memproyeksikan Indonesia akan keluar dari jebakan negara berpendapatan rendah tahun 2036 dengan pendapatan per kapita mencapai 16.877 per dolar AS.

    Pada 2015, pendapatan per kapita penduduk Indonesia mencapai 3.377 per dolar AS dan tahun 2020 diproyeksikan mencapai 4.546 per dolar AS.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.