Sering Ribut, Uni Eropa Sebut Peluang Bisnis di RI Masih Besar

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana bongkar-muat pada malam hari di Terminal Pelabuhan Indonesia II atau IPC Tanjung Priok, Jakarta, Rabu, 31 Oktober 2018. Sejak 2017, Pelabuhan Tanjung Priok dapat melayani kapal kontainer berkapasitas 10 ribu TEUs, yang berlayar setiap minggu secara rutin ke Los Angeles dan Oakland, Amerika Serikat. TEMPO/Amston Probel

    Suasana bongkar-muat pada malam hari di Terminal Pelabuhan Indonesia II atau IPC Tanjung Priok, Jakarta, Rabu, 31 Oktober 2018. Sejak 2017, Pelabuhan Tanjung Priok dapat melayani kapal kontainer berkapasitas 10 ribu TEUs, yang berlayar setiap minggu secara rutin ke Los Angeles dan Oakland, Amerika Serikat. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Eurocham atau Kamar Dagang Eropa di Indonesia, Corine Tap, mengatakan pelaku bisnis dari Uni Eropa memiliki hubungan yang sangat baik dengan mitra mereka di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan di tengah sejumlah polemik perdagangan yang terjadi antara Indonesia dan Uni Eropa.

    "Kami percaya, peluang dalam perdagangan di antara keduanya masih sangat besar," kata Corine saat ditemui di Jakarta, Kamis, 5 Desember 2019.

    Corine mengakui ada sejumlah tantangan yang dihadapi antara Indonesia dan Uni Eropa. Namun, kata dia, dialog yang saat ini dibangun masih cukup baik. Terakhir, Presiden Joko Widodo atau Jokowi menerima kunjungan delegasi European Union-ASEAN Business Council di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 28 November 2019.

    Dalam pertemuan ini, kata Corine, Indonesia dan pelaku bisnis dari Eropa membahas peluang investasi ada. Salah satunya yaitu untuk meningkatkan investasi asing dari Eropa ke Indonesia. Upaya ini jadi pembahasan dalam Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang ditargetkan rampung akhir 2020.

    Di saat yang bersamaan, Indonesia dan Uni Eropa masih terlibat polemik dan adu argumen pada sejumlah kebijakan perdagangan. Polemik terjadi pada isu diskriminasi sawit Indonesia oleh Uni Eropa.

    Indonesia tidak terima atas perlakuan Uni Eropa terhadap sawit Indonesia. "Tentu saja Indonesia tidak akan tinggal diam menanggapi diskriminasi ini," kata Jokowi dalam pertemuan dengan pelaku bisnis Eropa tersebut.

    Untuk melawan diskriminasi sawit, Indonesia melarang ekspor bijih nikel oleh Indonesia per 1 Januari 2020. Bijih nikel adalah komponen utama industri baja anti karat di Eropa. Tak ayal, Uni Eropa pun mempersiapkan diri untuk menggugat Indonesia ke World Trade Organization (WTO).

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan juga menyatakan Indonesia siap meladeni konsultasi maupun gugatan ke WTO tersebut. "Kami sudah siapkan tim," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...