Shortfall Pajak, Wamenkeu Beri Sinyal Bakal Tambah Utang Lagi

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara memberikan sambutan dalam acara Indonesia Banking Expo 2019 di Jakarta, Rabu, 6 November 2019. ANTARA

    Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara memberikan sambutan dalam acara Indonesia Banking Expo 2019 di Jakarta, Rabu, 6 November 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan bahwa di tengah kondisi ekonomi global yang melemah dan penuh ketidakpastian, penerimaan negara dari pajak bakal mengalami penurunan atau short fall. Meski penerimaan negara turun dari pajak, dia memastikan bahwa anggaran bisa tetap dijaga stabil dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

    "Pajak akan mengalami kekurangan penerimaan, tapi tugas kami adalah menjaga anggaran. Kalau penerimaan pajak short, kami tangani dengan belanja," ujar Suhasil dalam acara Mandiri Prioritas dan Mandiri Private di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Rabu, 4 Desember 2019.

    Kendati demikian, lanjut Suahasil, meski penerimaan turun pemerintah tidak akan melakukan pemotongan anggaran. Pemerintah bakal lebih selektif dan efektif dalam melakukan belanja negara. Sebab, di tengah kondisi ekonomi yang melemah, pemerintah ingin tetap mendorong pertumbuhan ekonomi lewat pembiayaan dari sisi fiskal.

    Menurut Suahasil, dengan kondisi demikian, pemerintah akan lebih memanfaatkan atau menambah instrumen pembiayaan. Misalnya, pada akhir 2019, pemerintah telah memperlebar defisit pembiayaan dari 1,8 persen menjadi 2,2 persen. Defisit yang diperlebar diharapkan bisa ikut menopang belanja negara sehingga ikut mendukung pertumbuhan ekonomi.

    Dengan defisit pembiayaan yang diperlebar, Suahasil tak menampik bahwa pemerintah berpotensi menambah utang. Menurut dia, utang adalah alat pemerintah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi ekonomi global yang melemah.

    "Kalau defisit lebar berarti utangnya nambah? Iya, kami akan ambil itu. Utang selalu sebagai alat, tujuan kita menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Sangat penting bagi kami untuk menjaga keseluruhan elemen APBN," ujar mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal ini.

    Suahasil berujar bahwa dirinya tak ingin ada stigma bahwa utang sebuah hal yang buruk sehingga tak seharusnya digunakan. Menurut dia, utang merupakan alat pemerintah menjaga momentum pertumbuhan, bukan merupakan tujuan pemerintah.

    Karena itu, dia memastikan bahwa utang yang ditarik bakal digunakan sesuai peruntukannya. Dia memastikan bahwa utang akan dipakai secara efektif dan digunakan untuk sektor yang produktif guna menopang belanja sehingga bisa ikut mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

    "Tahun depan, ekonomi dunia akan tetap menantang, tensi dagang akan tetap berlangsung, Cina tumbuh tapi rendah, India akan turun pertumbuhannya, maka itu anggaran akan tetap kami pakai sebagai alat menopang pertumbuhan tahun depan," kata Suahasil.

    Ia memastikan, Kementerian Keuangan masih memiliki satu tugas penting menjelang tutup tahun 2019. Salah satunya adalah menggunakan belanja negara yang tetap efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah rendahnya penerimaan pajak.

    DIAS PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.