Hari Bakti PU: Luhut Pandjaitan Pakai Ulos, Menteri PUPR Nge-drum

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan saat upacara Peringatan Hari Pekerjaan Umum ke-74 di Kementerian Pekerja Umum dan Perumahan Rakyat, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019. Tempo/Hendartyo Hanggi

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan saat upacara Peringatan Hari Pekerjaan Umum ke-74 di Kementerian Pekerja Umum dan Perumahan Rakyat, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019. Tempo/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengikuti upacara Hari Bakti PU ke-74. Luhut menjadi inspektur upacara dengan mengenakan pakaian topi khas batak berwarna dominan merah.

    Kain ulos hitam dan krem bergantung di bahu kirinya dan sarung pendek berwarna ungu emas melingkari bagian pinggang hingga lutut. Dalam kesempatan itu, Luhut membacakan pidato Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

    "Saya apresiasi sebesarnya atas kerja semua pihak PUPR, BUMN, swasta dan semua pikah yang bekerja keras untuk mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019," kata Luhut di Kementerian PUPR, Selasa, 3 Desember 2019.

    Menurut Luhut, selama lima tahun belakangan ini, pemerintah dan berbagai pihak sudah melakukan percepatan pembangunan secara besar-besaran.

    Dalam kesempatan yang sama Basuki memakai topi atau udeng batik khas Bali. Jas hitam dan sarung merah marun dengan batik coklat ia kenakan dari pinggang sampai mata kaki. Bahkan, Basuki juga menenteng keris bersarung emas.

    Seluruh peserta pegawai PUPR juga mengenakan pakaian adat. Usai upacara, Basuki bermain drum mengiringi lagu, salah satunya lagu Bento karya Iwan Fals.

    Adapun Hari Bakti PU lahir dari kisah 21 pegawai di Gedung Sate pada 3 Desember 1945. Sebanyak 21 pegawai PU bertugas menjaga gedung Departemen PU di Bandung yang sekarang bernama Gedung Sate.

    Mereka harus berjuang menghadapi serangan pasukan Sekutu. Tujuh pegawai PU ketika itu gugur dalam peristiwa tersebut. Mereka adalah Didi Hardianto Kamarga, Muchtaruddin, Soehodo, Rio Soesilo, Soebengat, Ranu, dan Soerjono. Kini, nama mereka dikenang sebagai Pahlawan Sapta Taruna.

    HENDARTYO HANGGI

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.