Direktur BTN Diduga Terpapar Radikalisme, BUMN Bantah Kecolongan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Arya Sinulingga (kiri) dan Yadi Hendriana. ANTARA/Ismar Patrizki

    Arya Sinulingga (kiri) dan Yadi Hendriana. ANTARA/Ismar Patrizki

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara atau BUMN membantah kecolongan soal penunjukan Direktur PT Bank Tabungan Negara atau BTN Persero yang diduga terpapar radikalisme. Sebab, penunjukan dewan direksi telah melalui sejumlah proses pertimbangan yang panjang.

    "Tidak ada kecolongan. Kami tidak kecolongan," ujar Staf Menteri BUMN Bidang Komunikasi, Arya Sinulingga, di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 2 Desember 2019.

    Media sosial sebelumnya menampilkan unggahan-unggahan Direktur Konsumer dan Komersial BTN Hirwandi Gafar yang diduga menganut paham radikal. Di media sosial Twitter, tersebar potongan gambar unggahan Hirwandi Gafar yang menyatakan mendukung gerakan tujuh juta status.

    "Gerakan 7 juta status. Kami percaya Ulama dan mendukung perjuangannya. Jangan dishare tapi di copy, agar tembus 7 jt. VIRALKAN !!! #Gerakan7jutastatus," tulis Hirwandi pada 23 Mei 2017.

    Di samping potongan gambar itu, terdapat foto Habib Rizieq dengan tulisan berikut ini. "Kami Percaya Ulama, Habib Rizieq dan Mendukung Perjuangannya."
    Unggahan di Twitter itu kemudian merebak viral sejak pekan lalu. Warganet bahkan mempertanyakan prasangka ini kepada Erick Thohir.

    Menurut Arya, Kementerian BUMN telah memproses laporan yang masuk. Setelah diteliti, ia memastikan Hirwandi memegang teguh Pancasila. Ia juga menyebut masih berada di koridor ideologi bangsa.

    "Yang pasti soal itu kami sudah lihat. Kami anggap masih berada di koridor Pancasila. Kalau proses lanjutannya seperti apa nanti ke OJK (Otoritas Jasa Keuangan)," ucapnya.

    Menanggapi kabar tersebut, Sekretaris Perusahaan BTN Achmad Chaerul mengatakan, "Pak Hirwandi merupakan satu talent terbaik yg dipunyai BTN saat ini."

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA | CAESAR AKBAR | HENDARTYO HANGGI | KODRAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.