Sri Mulyani Siapkan RP 1 Triliun Atasi Defisit Transaksi Berjalan

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani membetulkan posisi kacamatanya saat memberikan keterangan pers tentang realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 per akhir Oktober 2019 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin, 18 November 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani membetulkan posisi kacamatanya saat memberikan keterangan pers tentang realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 per akhir Oktober 2019 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin, 18 November 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    Tempo.Co, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah mengalokasikan Penyertaan Modal Negara alias PMN Rp 1 triliun dalam Angggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk penguatan neraca transaksi berjalan. Ia mengatakan dana itu diberikan sebagai terobosan kebijakan untuk meningkatkan kinerja ekspor nasional dan menekan impor.

    "Khususnya impor migas melalui investasi kepada BUMN untuk penguatan neraca transaksi berjalan," kata Sri Mulyani dalam Rapat Kerja bersama Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin, 2 Desember 2019.

    Bank Indonesia mencatat defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan III 2019 tadalah sebesar US$ 7,7 miliar alias 2,7 persen dari Produk Domestik Bruto. Angka itu tercatat lebih rendah dibanding defisit pada triwulan sebelumnya yang mencapai US$ 8,2 miliar atau 2,9 persen dari PDB.

    Direktur Jenderal Kekayaan Negara Isa Racmatarwata mengatakan dana itu akan dikucurkan kepada perusahaan pelat merah. Kendati, ia belum mau mengungkap siapa pihak yang akan menerima fulus itu. "Sedang kami bahas," ujarnya.

    Isa mengatakan kriteria BUMN yang menerima suntikan modal itu adalah perusahaan yang mampu menghasilkan kemungkinan kapasitas sehingga Indonesia tidak lagi melakukan impor suatu komoditas. "Atau impornya bisa menurun, atau ada substitusi impor."

    Dalam lain kesempatan, Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan banyak pihak yang senang jika Indonesia terus mengimpor minyak. Hal ini yang membuat masalah defisit transaksi berjalan atau current account defisit (CAD) Indonesia tidak pernah selesai.

    "Kenapa ini enggak bisa dikerjakan bertahun-tahun, ya, karena masih banyak yang senang impor minyak," katanya di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 2 Desember 2019.

    Menurut Jokowi, wajar banyak yang senang dengan impor minyak karena mudah dan untungnya besar. "Bisa dibagi ke mana-mana," ucap dia. Jokowi menjelaskan Indonesia bisa lepas dari defisit jika meningkatkan produksi minyak dan gas dalam negeri. Padahal, kata dia, Indonesia memiliki banyak sumur minyak yang bisa ditingkatkan.

    CAESAR AKBAR | AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.