5 Jurus Ma'ruf Amin Perbaiki Manajemen Pengelolaan Limbah Manusia

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin menghadiri acara Konferensi Sanitasi dan Air Minum di Hotel Kempinski, Jakarta, 2 Desember 2019. Tempo/Friski Riana

    Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin menghadiri acara Konferensi Sanitasi dan Air Minum di Hotel Kempinski, Jakarta, 2 Desember 2019. Tempo/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyampaikan sejumlah langkah untuk melakukan perbaikan manajemen pengelolaan limbah manusia.

    Langkah pertama adalah penyiapan sistem manajemen pengelolaan limbah manusia yang lebih terintegrasi dengan pengelolaan limbah lainnya. "Indonesia belum memiliki sistem pengelolaan limbah manusia yang terintegrasi dan diterapkan di berbagai wilayah," kata Ma'ruf dalam Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional di Hotel Kempinski, Jakarta, Senin, 2 Desember 2019.

    Ma'ruf mengatakan, dalam konteks manajemen pengelolaan limbah manusia, sarana sanitasi awal seperti, septic-tank hanya berfungsi sebagai tempat penampungan sementara tidak mencemari lingkungan. Tetapi keberhasilan manajemen sanitasi sangat tergantung pada kemampuan pengelolaan limbah manusia berikutnya.

    Ma'ruf menyebutkan langkah keduanya adalah edukasi dan sosialisasi yang lebih intensif kepada masyarakat. Sebab, masih banyak masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dan beberapa kota besar yang melakukan buang air besar sembarangan.

    Langkah ketiga, Ma'ruf menilai perlu ada pemanfaatan teknologi pengelolaan limbah manusia secara lebih baik. Langkah berikutnya adalah penguatan regulasi terkait pengelolaan limbah manusia jika diperlukan. Langkah terakhir adalah menyiapkan rencana aksi yang jelas dan terukur dalam perbaikan pengelolaan limbah manusia.

    Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan, Indonesia saat ini berhasil meningkatkan akses sanitasi air limbah domestik yang layak dari 58,44 persen pada 2011 menjadi 74,58 persen pada 2018. Selain itu, pemerintah juga menurunkan tingkat praktik BABS (buang air besar sembarangan) di tempat terbuka dari 19,23 persen di 2011 menjadi 9,36 persen di 2018.

    "Memang masih terdapat kesenjangan di mana hanya 7,24 persen rumah tangga memiliki akses pengelolaan air limbah domestik yang aman. Air limbah domestik yang tidak dikelola secara aman akan mengakibatkan penurunan kualitas air permukaan maupun air tanah yang menjadi sumber air minum," katanya.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.