Harga Rokok Mulai Naik, BPS Sebut Sumbang Inflasi November

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Bea Cukai melaksanakan operasi pasar gabungan atas peredaran rokok ilegal pada Rabu-Jumat, 16-18 Oktober 2019 di berbagai pasar di wilayah Kabupaten Jepara dan Kabupaten Blora.

    Petugas Bea Cukai melaksanakan operasi pasar gabungan atas peredaran rokok ilegal pada Rabu-Jumat, 16-18 Oktober 2019 di berbagai pasar di wilayah Kabupaten Jepara dan Kabupaten Blora.

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga rokok sudah mulai terpantau merangkak naik pelan-pelan. Pada November 2019, rokok telah menyumbang inflasi sebesar 0,01 persen terhadap angka inflasi November 2019 yang mencapai 0,14 persen.

    "Sejak beberapa bulan terakhir rokok di lapangan sudah mulai naik pelan-pelan, bulan lalu juga sudah naik. Kami melihat pedagang di bawah sudah mengantisipasi kenaikkan harga rokok awal tahun depan," ujar Kepala BPS Suhariyanto saat mengelar konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin 2 Desember 2019.

    BPS mencatat kelompok makanan jadi dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,25 persen. Sedangkan komponen ini memberikan andil bagi inflasi November sebesar 0,04 persen. Dari sana, yang paling dominan memberikan andil inflasi adalah rokok kretek dan rokok kretek filter dengan masing-masing 0,01 persen.

    Suhariyanto melanjutkan, menurut catatan BPS, sejak bulan September hingga November 2019, rokok kretek dan rokok kretek filter selalu menyumbang angka inflasi. Masing-masing memberikan andil sekitar 0,20 persen. Menurut dia, kenaikkan mengindikasikan bahwa pedagang telah mulai menaikkan harga.

    Langkah ini, kata Suhariyanto, merupakan strategi pedagang untuk menaikkan secara gradual harga rokok. Hal ini supaya para perokok tidak kaget dengan kenaikkan harga rokok pada Januari 2020.

    "Jadi pedagang tampaknya tidak ingin naik langsung karena bikin konsumen kaget. Makannya, dia mulai mengantisipasi kenaikan tipis-tipis sehingga para perokok tidak akan kaget-kaget itu yang terjadi," kata Suhariyanto.

    Sebelumnya, Kementerian Keuangan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan No.152/ PMK.04/2019 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau atau CHT. Peraturan tersebut mengatur adanya kenaikan produk hasil tembakau seperti rokok lewat cukai. Berdasarkan beleid itu, tarif rata-rata 23 persen dan harga jual eceran 35 persen.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan kenaikan cukai rokok tersebut tak bakal mempengaruhi terhadap laju inflasi pada 2020. Hal itu disampaikan Sri Mulyani dalam acara Festival Transformasi 2019 di Gedung Dhanapala, Jakarta pada Selasa, 29 Oktober 2019.

    "Perkiraan kami dari seluruh unsur penghitungan, (inflasi) akan terjaga hingga akhir tahun," kata dia. Adapun,Target inflasi Indonesia dalam APBN 2020 yang telah disahkan berada pada angka 3,1 persen +-1 persen.

    DIAS PRASONGKO | BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!