Tunggu Negosiasi Perang Dagang, IHSG Diramalkan 6.220 Akhir 2019

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT Fuji Finance Indonesia Tbk. Anita Marta, saat memberikan sambutan dalam acara pencatatan perdana saham, di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan. Fuji Finance yang menggunakan ticker code FUJI ini menjadi perusahaan ke-26 yang melantai di bursa saham tahun ini. Tempo/Dias Prasongko

    Direktur Utama PT Fuji Finance Indonesia Tbk. Anita Marta, saat memberikan sambutan dalam acara pencatatan perdana saham, di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan. Fuji Finance yang menggunakan ticker code FUJI ini menjadi perusahaan ke-26 yang melantai di bursa saham tahun ini. Tempo/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG akan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya pads akhir tahun. Hal itu karena dia melihat masih negatifnya berita global dan regional.

    "Ditambah beberapa kasus di dalam negeri membuat kami menurunkan target IHSG di akhir tahun ke level 6.220," kata Hans Kwee dalam keterangan tertulis, Sabtu, 30 November 2019.

    Sedangkan, IHSG pekan depan dia perkirakaan akan bergerak di level support 5939 sampai 5.767 dan resistance di level 6.100 sampai 6.200. "Investor kami rekomendasikan SOS ketika pasar menguat dan melakukan pemelian kalau terjadi koreksi dalam di pasar," ujarnya.

    Pergerakan IHSG pekan depan pasar masih menanti kejelasan negosiasi perang dagang. Pada awal pekan Presiden Donald Trump mengatakan Washington dan Beijing berada dalam "pergolakan akhir" perundingan untuk mengamankan kesepakatan perdagangan.

    Trump, kata Hans, juga menyatakan dukungan pemerintahannya bagi demonstran di Hong Kong menjadi masalah yang sangat sulit bagi Cina saat ini. Optimisme besar di awal pekan menyusul pernyataan Tramp dan perwakilan Cina. Di mana Kementerian Perdagangan Cina mengatakan negosiator kedua negara mencapai konsensus terkait penyelesaian masalah inti dan sepakat untuk tetap berhubungan untuk menyelesaikan perjanjian fase pertama.

    "Saat ini pasar punya harapan besar akan negosiasi yang lancar antara Cina dan AS. Pasar menjadi kawatir kerena semakin dekat nya waktu karena Washington menjadwalkan untuk mengenakan tarif lebih besar pada barang-barang China pada 15 Desember nanti," kata dia.

    Bila tidak terjadi kesepakatan dan terjadi kenaikan tarif maka pasar akan merespon dengan negatif.

    Rilis data defisit perdagangan barang AS menunjukkan penurunan tajam pada Oktober karena ekspor dan impor menurun. Data ekonomi yang baik ini semakin menenggelamkan harapan penurunan bunga Fed di akhir tahun. Tetapi the Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga rendah.

    Sedangkan dari dalam negeri kisruh pembubaran reksa dana terbukti menekan kinerja IHSG, di mana di awal pekan di tengah optimisme negosiasi perang dagang AS Cina IHSG mengalami tekanan turun. Senin, Selasa dan Rabu, Dow Jones membuat rekor kenaikan baru, tetapi IHSG tertekan akibat aksi jual Reksadana yang di bubarkan.

    "Terbukti beberapa saham blue chip yang ada di dalam list produk yang dibiarkan telah mengalami tekanan jual selama sepekan," ujar Hans.

    Menurutnya, bila aksi jual pembubaran reksadana telah berakhir maka tekanan jual akan berkurang. Dia berharap tidak terjadi aksi panik jual akibat kerugian yang terafiliasi.

    "Kami masih memantau aksi OJK, yang bila konsisten dengan keputusannya mungkin masih akan membubarkan beberapa produk reksadana akibat janji return. Hal ini masih akan memberikan tekanan jual pada pasar saham," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!