Transportasi Ikan Hias Mahal, Menteri KKP Gandeng Tiga Instansi

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ikan hias yang dijajakan pedagang di Pasar Jatinegara, Jakarta, 30 Juli 2015. Indonesia mendapatkan kembali fasilitas Generalized System of Preference (GSP) untuk ekspor ikan ke Amerika Serikat. Salah satu produk ikan yang mendapat GSP adalah ikan hias, yang mendapatkan penurunan tarif bea masuk sebesar 0,5 persen sampai 15 persen. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Ikan hias yang dijajakan pedagang di Pasar Jatinegara, Jakarta, 30 Juli 2015. Indonesia mendapatkan kembali fasilitas Generalized System of Preference (GSP) untuk ekspor ikan ke Amerika Serikat. Salah satu produk ikan yang mendapat GSP adalah ikan hias, yang mendapatkan penurunan tarif bea masuk sebesar 0,5 persen sampai 15 persen. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo berjanji akan mencari jalan keluar atas masalah yang dihadapi pembudidaya ikan hias. Di antaranya mahalnya biaya angkut dan kendala regulasi.

    "Misalnya, ada yang melaporkan kalau pindah barang dari Sumatra ke sini mahal dan waktunya lama. Ini akan segera diterobos," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu, 30 November 2019.

    Untuk menyelesaikan masalah ini, KKP katanya akan berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. "Kami, pemerintah akan hadir untuk segera melakukan terobosan-terobosan dalam mengurangi hambatan-hambatan yang mengurangi ekonomi biaya tinggi," ujarnya.

    Indonesia diketahui memiliki potensi ikan hias air tawar yang belum tertandingi di dunia dengan sekitar 1.300 spesies. Kendati demikian, saat ini baru terdapat 90 spesies atau 7 persen dari keseluruhan potensi ikan hias air tawar yang sudah dibudidayakan.

    Mahalnya transportasi pengiriman ikan hias, kendala regulasi, berkurangnya ketersediaan ikan hias di alam, dan terbatasnya ketersediaan induk unggul menjadi sejumlah isu utama yang dihadapi oleh para pelaku usaha saat ini.

    Edhy menuturkan ikan hias merupakan komoditi perikanan yang tepat untuk dibudidayakan. Selain mudah, budidaya ikan hias tidak memerlukan wilayah yang begitu luas. Biaya yang diperlukan pun tak begitu besar. Tak kalah penting, pasar ikan hias masih terbuka lebar untuk permintaan domestik maupun ekspor.

    "Budidaya ikan hias bisa menambah nilai ekonomi secara lebih cepat. Dari segi hitungan, kalau budidaya ikan hias ini laku di pasaran hasilnya akan lebih besar," katanya.

    Guna mendorong hal ini, Menteri Edhy menyatakan bahwa KKP akan merangkul seluruh stakeholder budidaya ikan hias. Dia memastikan, komunikasi dua arah dengan stakeholder akan terus dibangun ke depannya.

    "Kita cari solusi untuk masalahnya, termasuk regulasinya, soal aturan-aturannya, dan juga fasilitas yang dibutuhkan," ujar Edhy.

    Diketahui pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyelenggarakan pameran ikan hias terbesar di dunia, "Nusantara Aquatic (Nusatic) 2019" di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Tangerang, yang terbuka untuk umum selama 29 November 2019 – 1 Desember 2019.

    Pameran ikan hias terbesar di dunia ini diharapkan menjadi trigger untuk mendorong promosi ikan Indonesia di pasar domestik maupun pasar ekspor.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.