Arahan Terawan ke Dinas Kesehatan Soal Defisit BPJS Kesehatan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dalam peluncuran Katalog Wisata Kesehatan dan Skenario Perjalanan Wisata Kebugaran pada Selasa 19 November 2019/Kementerian Kesehatan

    Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dalam peluncuran Katalog Wisata Kesehatan dan Skenario Perjalanan Wisata Kebugaran pada Selasa 19 November 2019/Kementerian Kesehatan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto meminta dinas kesehatan di setiap daerah berkomunikasi dengan puskesmas dan fasilitas kesehatan tingkat pertama agar menggalakkan aksi preventif dan promotif di wilayahnya.

    Ia mengatakan hal tersebut adalah salah satu solusi untuk mengatasi perkara defisit yang menggerogoti Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS Kesehatan. "Kalau semakin sedikit orang yang sakit dan membutuhkan layanan kesehatan, kan otomatis tidak akan tekor," ujar Terawan di Kantor Kementerian Kesehatan, Jumat malam, 29 November 2019.

    Selain memberikan arahan soal BPJS Kesehatan, Terawan menyampaikan beberapa hal kepada perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi se-Indonesia pada pertemuan tadi malam. Misalnya saja soal visi misi Presiden Joko Widodo dan berbagai fokus. "Fokusnya ya sama, yaitu BPJS, stunting, angka kematian ibu dan angka kematian bayi, kemudian harga obat, dan juga pemakaian alat kesehatan," tuturnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Terawan meminta layanan yang ditanggung BPJS Kesehatan dibatasi hanya pada pelayanan dasar. Hal ini merupakan salah satu upaya menekan defisit yang diprediksi mencapai Rp 32 triliun pada tahun ini. "Kan ini namanya limited budgeting kok diperlakukan unlimited medical services. Itu jelas akan menjadikan pengaruh yang sangat besar," ujar Terawan.

    Ia mengatakan arahan itu mengacu kepada Pasal 19 Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004, yang mengamanatkan soal pelayanan dasar tersebut. Sebab, ia meyakini kalau BPJS Kesehatan mencakupi pelayanan tak terbatas, maka tidak akan sanggup. "Akan collapse."

    Dengan kondisi BPJS Kesehatan yang defisit itu, Terawan meminta lembaga tersebut melakukan peninjauan kembali akan pengeluarannya. Ia menyebut dengan kemampuan keuangan yang terbatas, pengeluaran juga mesti dibatasi. Kalau tidak, maka BPJS Kesehatan akan selalu defisit. "Karena itu saya mengimbau teman-teman semua, bekerjalah berdasarkan kriteria yang benar," ujar Terawan.

    Misalnya saja sekarang pasien operasi caesar yang menggunakan BPJS Kesehatan mencapai 45 persen. Padahal WHO menyebut batasannya 20 persen. Karena itu, layanan itu pun harus diseleksi, mana pasien yang benar-benar membutuhkan dan mana yang tidak. Dengan demikian, tidak akan ada pembengkakan biaya.

    "Kalau terjadi yang berlebihan tindakannya ya bangkrut. Padahal UU-nya sudah saya bilang, pelayanan kesehatan dasar," kata Terawan. Ia menyebut kasus-kasus semacam ini masuk ke kategori tindakan yang berlebihan lantaran semestinya ada tindakan lain yang lebih terjangkau biayanya.

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!