Bangun PLTN untuk Suplai Listrik, Jokowi Disarankan Survei Ulang

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • mantan Menteri ESDM, sekaligus mantan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Optimalisasi Pengelolaan Energi Untuk Menjamin Ketahanan Energi Nasional, Senin, 15 Juni 2015, di gedung Pasca Sarjana Universitas Diponegoro (Undip) Pleburan, Jawa Tengah.Komunika Online.

    mantan Menteri ESDM, sekaligus mantan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Optimalisasi Pengelolaan Energi Untuk Menjamin Ketahanan Energi Nasional, Senin, 15 Juni 2015, di gedung Pasca Sarjana Universitas Diponegoro (Undip) Pleburan, Jawa Tengah.Komunika Online.

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro menyatakan Indonesia dituntut menghadirkan dan menggunakan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk mengatasi kian menipisnya energi fosil berwujud minyak dan gas. Salah satunya untuk menyuplai listrik ke seluruh pelosok nusantara.

    "Minyak dan gas akan habis dipakai, kalau ada penelitian seharusnya dilakukan untuk mengembangkan Migas Non Konvensional (MNK)," ujar Purnomo di sela menghadiri forum bertajuk Penguatan Ketahanan Energi untuk Mendukung Ketahanan Nasional di kampus UPN Veteran Yogyakarta, Kamis, 28 November 2019.

    Terkait hal ini, kata Purnomo, EBT dengan bersumber dari nuklir jadi salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan. Usulan pendirian pembangkit listrik tenaga nuklir atau PLTN sempat digagas sekitar 15 tahun silam pemerintah dengan mengambil titik lokasi di kawasan Gunung Muria.

    Pertimbangan pemerintah saat itu karena melihat nuklir sebagai bahan pembangkit listrik yang bisa mengejar kebutuhan nasional. Namun saat itu masih mendapat penolakan masyarakat sehingga rencana itu mandeg.

    Purnomo menuturkan, jika pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi berniat mengembangkan nuklir sebagai sumber energi, setidaknya harus melihat prinsip kemandirian energi yang biasa disebut 4A1S.

    Prinsip kemandirian energi 4A1S itu adalah Availability atau kemampuan memberikan jaminan ketersediaan energi, Accessibility yang bicara soal akses terhadap energi, dan Affordability yang memberikan harga energi yang terjangkau. Selain itu ada prinsip Acceptability soal penerimaan masyarakat pada jenis energi tertentu, dan Sustainability tentang penggunaan energi secara berkelanjutan.

    “Masalah terbesar pengembangan nuklir itu letaknya di faktor acceptability atau penerimaan masyarakat ini seperti apa. Kalau acceptabilitynya diterima, baru bisa jalan,” ujar Purnomo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!