Luhut Minta Pabrik Jerman Tanam Modal untuk Dukung Mobil Listrik

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi berbincang dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat mengunjungi pabrik Hyundai Motor Company (HMC) di Kota Ulsan, Korea Selatan, Selasa, 26 November 2019. Dalam kunjungan tersebut, Jokowi turut didampingi Ibu Negara Iriana, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

    Presiden Jokowi berbincang dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat mengunjungi pabrik Hyundai Motor Company (HMC) di Kota Ulsan, Korea Selatan, Selasa, 26 November 2019. Dalam kunjungan tersebut, Jokowi turut didampingi Ibu Negara Iriana, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meminta perusahaan kimia asal Jerman, Badische Anilin- und Soda-Fabrik atau BASF, menanamkan modalnya di Indonesia. Salah satunya mendukung pengolahan nikel untuk penyediaan komponen baterai mobil listrik.

    Luhut mengatakan saat ini Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai bijih nikel kadar rendah atau limonite alias kandungan nikel 0,8-1,5 persen. "Nikel dengan kadar ini adalah bahan baku untuk memproduksi baterai lithium ion. Sekitar 70-80 persen komponen utama kendaraan listrik yaitu baterai lithium ada di Indonesia,” kata Luhut saat mengunjungi pabrik tersebut di Jerman melalui keterangan tertulis yang disampaikan humas, Rabu petang, 27 November 2019.

    Luhut mengatakan pemerintah saat ini tengah bertransformasi mengekspor kebutuhan komoditas menjadi ekspor barang dengan nilai tambah. Adapun selama ini Indonesia hanya mengekspor bahan mentah dan diolah di luar negeri, kemudian diimpor lagi ke Indonesia.

    Dalam hal ini, ia menyatakan ingin meningkatkan nilai tambah nikel untuk berbagai komponen pendukung pembuatan mobil listrik. Apalagi, kata dia Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia.

    "Jadi jika Anda ingin berbisnis dengan harga yang kompetitif, logistik yang murah, sambil membantu kami menekan angka kemiskinan, serta ramah lingkungan datanglah ke Indonesia,” ujarnya.

    Untuk menarik minat BSF, Luhut menyebut keunggulan keberadaan nikel limonite bagi pasokan komponen kendaraan listrik di Indonesia. Ia mencontohkan, di Tanah Air, harga listrik dari hydro power lebih murah, yakni 2-4 sen per kilowatt hour. Ia memprediksi, harga itu bisa turun menjadi 2 sen per killowatt hour.

    “Bandingkan dengan tetangga kita Australia yang juga punya hydro power tetapi lokasi nya di tengah sehingga biaya transportasinya lebih mahal. Di Jepang dan Cina juga masih lebih mahal,” ujarnya.

    Meski demikian, ia tak menampik ada biaya risiko untuk lingkungan hidup. Sebab, Luhut menyatakan pemerintah telah berkomitmen, kebijakan yang diambil mesti memikirkan nasib generasi mendatang. Artinya, pemerintah tak ingin kebijakan terkait sumber daya alam ini akan berdampak buruk bagu lingkungan.

    VP of Business Management at BASF Battery Materials Europe Daniel Schönfelder mengatakan perusahaannya saat ini adalah salah satu pemain utama sebagai produsen baterai mobil listrik.
    Menurutnya, perusahaan tersebut akan menambah proporsi nikel pada produksi baterai kendaraan listrik untuk meningkatkan performa.

    “Elektrifikasi kendaraan saat ini sedang berlangsung terutama di kawasan Uni Eropa. Walaupun pangsanya masih kecil, diperkirakan akan tumbuh subur karena semakin banyak konsumen memilih produk yang berkelanjutan dan ramah lingkungan,” kata Schönfelder.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.