Beri Kuliah di UI, Sri Mulyani: Prabowo dan Nadiem Penting Banget

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dari kiri: Kepala Staf Presidenan Moeldoko, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sebelum memulai rapat terbatas di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 31 Oktober 2019. Rapat membahas penyampaian program dan kegiatan di bidang politik, hukum dan keamanan. TEMPO/Subekti.

    Dari kiri: Kepala Staf Presidenan Moeldoko, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sebelum memulai rapat terbatas di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 31 Oktober 2019. Rapat membahas penyampaian program dan kegiatan di bidang politik, hukum dan keamanan. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Depok - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan materi pada kuliah umum perekonomian Indonesia tentang Kebijakan Fiskal di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Pada kesempatan itu, Sri Mulyani menerangkan bahwa dalam mengelola keuangan negara, semua bidang di 34 kementerian itu penting.

    "Kalau lihat 34 menteri semuanya penting, UMKM penting, sosial penting, kesehatan penting, pendidikan apalagi sekarang ada mas Nadiem penting banget, Menteri PUPR penting, menteri transportasi penting, Menteri Pak Prabowo penting banget," kata Sri Mulyani di UI Depok, Rabu, 27 November 2019.

    Sri Mulyani juga mengatakan bahwa kebutuhan di Indonesia sangat banyak, mulai jalan raya sampai ke desa, irigasi, sanitasi, air bersih, dan lainnya. Menurut dia, hal itu biasanya tidak ada pihak swasta yang mau membangun. Karena itu, harus dibangun oleh pemerintah. Padahal, kata dia, pemerintah kebutuhannya banyak sekali.

    "Ada yang minta jalan macet diselesaikan ada yang ingin internet, ada yang ingin akses air bersih di semua pelosok. Ada yang minta pesawat tempur bagus. Jadi so many, semua butuh kan. Moga- moga Anda tidak stres, kalau jadi Menteri Keuangan ya, kayak gitu tiap hari," kata dia.

    Karena itu, Sri Mulyani melanjutkan, dalam mengelola keuangan negara perlu kehati-hatian dan menetapkan mana hal yang benar-benar penting. Pemerintah, kata dia, menggunakan kebijakan kebijakan ekonomi untuk menangani masalah hari ini.

    Menurut Sri Mulyani, hal itu juga sebagai investasi pada masa mendatang. Menurutnya, untuk fiskal sifatnya harus intergenerasional. "Anda bisa aja (bilang) hari ini saya bikin ah fiskalnya ketat saja pokoknya yang penting sehat. Terus generationnya gimana bu? Untuk pendidikan, utk air bersih, untuk kesehatan? Ya berdoa aja yg banuak supaya mereka selamat. Kan tidak begitu," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.