Genjot Investasi, Sri Mulyani: Agar Pertumbuhan Bukan dari Utang

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sri Mulyani tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin 22 Oktober 2019. TEMPO/Subekti.

    Sri Mulyani tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin 22 Oktober 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah ingin membangun perekonomian yang berkelanjutan sehingga akan dilakukan transformasi kebijakan pertumbuhan ekonomi melalui investasi. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi tak lagi banyak bersumber dari utang.

    “Jadi nantinya sebagian besar pertumbuhan ekonomi kami, tidak datang dari utang, tapi lebih dari private sector, sejalan dengan datangnya modal asing ke Indonesia,” kata Sri Mulyani dalam acara FT-AIIB Summit 2019 dengan topik Delivering Indonesia’s Infrastructure Vision 2019-2024 di Jakarta, Selasa, 26 November 2019.

    Sri Mulyani menuturkan transformasi kebijakan itu dilakukan dengan memperbaiki dan menjaga iklim investasi, sehingga dapat terus menjadi pendorong perekonomian di Indonesia, mengingat diperlukan pertumbuhan dua digit pada sektor ini. "Dulu bisa double digit 11 sampai 12 persen, namun sejak krisis keuangan pertumbuhan investasi kita di bawah dua digit,” ujarnya.

    Pemerintah juga tengah memangkas sejumlah regulasi yang dianggap menghambat datangnya investor ke Indonesia dengan menggantinya melalui Omnibus Law. "Lewat perbaikan iklim investasi ini kami berharap bisa menyediakan ruang bagi banyak investor untuk datang ke Indonesia, baik domestik maupun asing untuk membangun ekonomi bersama kami,” kata Sri Mulyani.

    Perbaikan pada neraca pembayaran sebab setiap ekonomi domestik tumbuh juga dilakukan. Pasalnya, belakangan tren kondisi Current Account Deficit (CAD) turut meningkat karena defisit impor minyak dan gas (migas).

    Dengan adanya investasi di sektor energi, termasuk migas, bisa membantu neraca pembayaran untuk tetap tumbuh dan pada saat bersamaan juga ikut menekan angka defisit. Indonesia pun telah memiliki banyak jenis investasi di sektor energi, terutama investasi terkait energi baru terbarukan atau renewable energy.

    Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada kuartal III-2019, investasi hanya tumbuh 4,21 persen (yoy) atau melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu 6,29 persen. Hal tersebut juga terjadi untuk pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai 5,02 persen pada kuartal III-2019 atau melambat dibandingkan periode sama tahun lalu yakni tumbuh 5,17 persen.

    Adapun Bank Indonesia pada pertengahan November ini menyebutkan Utang luar negeri (ULN) Indonesia naik 10,2 persen (yoy) menjadi US$ 395,6 miliar pada kuartal ketiga tahun ini. Angka ini setara dengan Rp 5.607 triliun asumsi kurs Rp 14.174 per dolar AS.

    ULN sebanyak US$ 395,6 miliar itu terdiri atas utang pemerintah dan bank sentral sebesar US$ 197,1 miliar dan utang swasta US$ 198,5 miliar. Utang Luar Negeri Indonesia tersebut tumbuh 10,2 persen (yoy), relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang dipengaruhi oleh meningkatnya pertumbuhan ULN pemerintah di tengah perlambatan ULN swasta.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    ETLE, Berlakunya Sistem Tilang Elektronik Kepada Sepeda Motor

    Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya telah memberlakukan sistem tilang elektronik (ETLE) kepada pengendara sepeda motor.