Heboh, Produsen Tahu Tropodo Janji Tak Lagi Pakai Sampah Plastik

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembakaran plastik mencemari udara dan makanan. Asap pembakaran plastik menciptakan dioxin dan bahan kimia beracun lainnya.[Ulet Ifansasti/The New York Times]

    Pembakaran plastik mencemari udara dan makanan. Asap pembakaran plastik menciptakan dioxin dan bahan kimia beracun lainnya.[Ulet Ifansasti/The New York Times]

    TEMPO.CO, Jakarta - Warga Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur mendeklarasikan diri dengan tidak lagi menggunakan sampah plastik sebagai bahan baku produksi tahu mereka, demi menciptakan lingkungan yang bersih dari Polusi.

    Pembacaan deklarasi itu dibacakan langsung oleh warga di hadapan Bupati Sidoarjo dan juga forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopomda) Kabupaten Sidoarjo.

    "Kami industri kecil menengah (IKM) tahu Desa Tropodo Krian menyatakan dan berjanji tidak akan menggunakan bahan bakar sampah plastik dalam proses pembuatan tahu," kata perwakilan perajin tahu saat membacakan deklarasi, Selasa, 26 November 2019.

    Usai pembacaan deklarasi, Ketua IKM tahu Kecamatan Krian, Komar mengatakan perajin bersedia untuk tidak menggunakan sampah berbagai bahan bakar pembuatan tahu.

    "Perajin berharap pemerintah Kabupaten Sidoarjo membantu ketel. Karena ketel yang digunakan menggunakan bahan bakar plastik itu berbeda dengan bahan bakar kayu atau wood pellet," katanya.

    Oleh karena itu, dirinya meminta supaya pemerintah memberikan bantuan kepada perajin, karena bentuk ketel berbeda maka akan timbul biaya lagi kalau menggunakan wood pellet seperti yang disampaikan oleh Bupati Sidoarjo Saiful Ilah.

    "Sekali lagi, perajin ini meminta supaya ada bantuan riil dari pemerintah," katanya.

    Menanggapi keluhan perajin tahu, Bupati Sidoarjo Saiful Ilah mengatakan jika pihaknya siap untuk mencarikan solusi yang dikeluhkan warga.

    "Intinya sekarang perajin tahu tidak lagi menggunakan limbah plastik sebagai bahan bakar. Untuk teknis dan harga bahan bakar pengganti yaitu wood pellet akan dikomunikasikan lebih lanjut," katanya.

    Ia mengatakan, dengan menggunakan wood pellet hasil pembayarannya juga bagus, dan tentunya lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan menggunakan sampah plastik.

    "Nanti bisa dihitung, dalam satu jam berapa yang dibutuhkan untuk wood pellet atau juga yang dibutuhkan dengan plastik. Memang lebih mahal, tetapi harga tahunya nanti bisa dinaikkan," ujar Saiful Ilah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Siap-Siap Sekolah Saat Pandemi Covid-19

    Berikut tips untuk mempersiapkan anak-anak kembali ke sekolah tatap muka setelah penutupan karena pandemi Covid-19.