Dasar Pertumbuhan Ekonomi ala Sri Mulyani: Prudent dan Ambisius

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani membetulkan posisi kacamatanya saat memberikan keterangan pers tentang realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 per akhir Oktober 2019 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin, 18 November 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani membetulkan posisi kacamatanya saat memberikan keterangan pers tentang realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 per akhir Oktober 2019 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin, 18 November 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus melanjutkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Tak hanya itu, pemerintah juga ingin membangun perekonomian dengan dasar prudent atau kehati-hatian dan serta ambisius.

    "Hal ini sangat penting, karena menurut kami, prudent atau kehati-hatian dan berkelanjutan, tidak berarti bahwa kami berkompromi dengan ambisi kami," kata Sri Mulyani dalam acara dalam acara FT-AAIB Summit 2019 di Grand Hyaat, Jakarta Pusat, Selasa 26 November 2019.

    Menurut Sri Mulyani, ambisi untuk membangun perekonomian yang berfokus pada tiga hal itu juga disampaikan oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu, kara Sri Mulyani, ingin mentransformasikan perekonomian Indonesia menjadi lebih stabil, berkelanjutan dan lebih baik.

    Sementara itu, Jokowi sebelumnya, juga sempat menyatakan bahwa Indonesia bisa keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah (middle income trap) pada 2045. Jokowi menjelaskan, pada 2045 Indonesia memiliki target produk domestik bruto (PDB) bisa mencapai US$ 7 triliun. Dengan pertumbuhan PDB itu, Indonesia masuk sebagai negara lima besar ekonomi dunia.

    Sri Mulyani menjelaskan untuk mendukung cita-cita itu, pemerintah akan mempertahankan kondisi ekonomi makro bisa tetap stabil. Meskipun, saat ini ekonomi global masih mengalami tantangan baik akibat pelambatan ekonomi, perang dagang hingga harga komoditas yang anjlok.

    "Kami akan terus memastikan bahwa kebijakan ekonomi makro, akan cukup stabil guna menopang fundamental untuk kemajuan ekonomi kami yang lebih berkelanjutan," kata Sri Mulyani.

    Selain itu, Sri Mulyani juga mengatakan untuk mencapai target itu, pemerintah fokus pada strategi menciptakan iklim investasi yang mendukung. Salah satunya, dengan menggenjot berbagai kebijakan percepatan regulasi yang mendukung investasi satunya omnibus laws.

    "Investasi sangat kritikal, dan Presiden Jokowi melihat hal ini sebagai titik awal yang perlu diperhatikan. Sebab, ekonomi tidak bisa tumbuh di atas 7 persen jika hanya memanfaatkan dana pemerintah saja," ujarnya.

    Lebih lanjut, kata Sri Mulyani, pemerintah memiliki target untuk mencapai pertumbuhan ekonomi minimal 7 persen. Adapun saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada level sekitar 5 persen. Sepanjang triwulan III 2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,02 persen.

    Bendahara Negara ini juga menjelaskan, pertumbuhan investasi di Indonesia memang cenderung stagnan diangka 5-7 persen, khususnya pascakrisis finansial global pada 2008. Karenanya, pertumbuhan investasi perlu menjadi perhatian pemerintah.

    DIAS PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.