Rupiah Diprediksi Menguat Karena Sinyal Perang Dagang Mereda

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai memindahkan uang rupiah di cash center Bank Mandiri, Jakarta, Selasa, 25 Juni 2019. Nilai tukar rupiah terpantau menguat pada Selasa (25/6). Nilai tukar Rupiah senilai Rp 14.138 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat jika dibandingkan pada hari sebelumnya yang berada pada level Rp 14.165 per dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    Pegawai memindahkan uang rupiah di cash center Bank Mandiri, Jakarta, Selasa, 25 Juni 2019. Nilai tukar rupiah terpantau menguat pada Selasa (25/6). Nilai tukar Rupiah senilai Rp 14.138 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat jika dibandingkan pada hari sebelumnya yang berada pada level Rp 14.165 per dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diprediksi menguat pada perdagangan hari ini, Selasa 25 November 2019. Penguatan ini disinyalir dari sentimen positif dari optimisme damai dagang antara AS dan Cina yang kembali meningkat.

    Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pasar memaknai positif komentar  Presiden AS Donald Trump tentang Cina. Trump memberikan sinyal harapan bahwa kedua belah pihak akan menandatangani kesepakatan perdagangan segera.  

    “Trump mengatakan bahwa kesepakatan dengan Cina berpotensi semakin dekat untuk direalisasikan. Dia juga mengindikasikan bahwa dia mungkin tidak menandatangani RUU untuk mendukung Hong Kong dalam upaya untuk menenangkan pemerintah Cina,” papar Ibrahim, seperti yang dilansir Bisnis, Selasa 26 Oktober 2019.

    Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan 25 November 2019, rupiah berada di level Rp14.086 per dolar AS, menguat tipis 0,043 persen atau 6 poin.

    Oleh karena itu, dia memperkirakan rupiah kembali menguat pada perdagangan Selasa 25 November 2019, di kisaran Rp14.055 per dolar AS hingga Rp14.105 per dolar AS.

    Selain itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang juga memimpin Partai Konservatif berhasil di peringkat atas dalam jajak pendapat menjelang pemilihan 12 Desember, dengan janji untuk menyelesaikan Brexit dan membawa kesepakatan untuk meninggalkan Uni Eropa kembali ke parlemen sebelum Natal menjadi angin segar bagi aset berisiko.

    Sementara itu, Ahli Strategi Makro DBS Bank Singapura Chang Wei Liang mengatakan bahwa volaitilas pasangan USD/IDR cukup sempit, karena pasar mengantisipasi kesimpulan untuk pembicaraan perdagangan fase pertama AS dan Cina.

    “Pasangan USD/IDR bergerak konsolidasi sekitar Rp14.000 per dolar AS hingga Rp14.200 per dolar AS seiring dengan perbedaan suku bunga yang mendukung. Namun, defisit perdagangan Indonesia menjadi perhatian dan bisa melebar begitu investasi infrastruktur berjalan,” ujar Chang Wei seperti dikutip dari Bloomberg.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...