Harga Avtur Mahal, Menhub Ancam Cari Pemasok Selain Pertamina

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menunjukkan contoh Avtur pada gelas ukur sebelum didistribusikan di Terminal Bahan Bakar Minyak Pertamina, Pontianak, Kalimantan Barat, 14 Oktober 2017. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Petugas menunjukkan contoh Avtur pada gelas ukur sebelum didistribusikan di Terminal Bahan Bakar Minyak Pertamina, Pontianak, Kalimantan Barat, 14 Oktober 2017. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi membuka opsi adanya pemasok bahan bakar avtur selain Pertamina agar menyediakan harga yang lebih kompetitif.

    “Kami enggak menutup hal itu. Kita akan berikan opsi selain Pertamina, tentunya kita harapkan pemasok lokal,” kata Menhub usai rapat kerja dengan Komisi V DPR di Jakarta, Senin, 25 November 2019.

    Dengan adanya kompetitor lain, Budi berharap harga avtur semakin bersaing dan mengantisipasi terjadinya praktik monopoli. “Sambil menunggu ‘rebalancing’ (penyeimbangan harga), kami memberikan kesempatan ke operator lainnya. Kita meminta keputusan menteri BUMN, sehingga nanti juga tidak terjadi monopoli,” katanya.

    Pasalnya, dia menyebutkan, harga avtur di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, lebih tinggi 25 persen dari harga avtur di Singapura.

    Untuk itu, Budi pun akan melakukan penyeimbangan harga (rebalancing) agar harga avtur di sejumlah titik tidak jauh berbeda.

    Selain itu, Menhub akan menentukan sejumlah titik yang menjadi patokan harga avtur, di antaranya Bali, Kupang, Makassar, Jayapura, Palembang, Ambon dan lainnya.

    “Agar harganya tidak tinggi, sehingga pesawat-pesawa itu bisa menggunakan avtur-avtur yang ada di titik-titik itu,” katanya.

    Budi mengatakan upaya tersebut juga sebaga bagian dari memperlancar arus angkutan Natal dan Tahun baru 2020 yang didominasi oleh angkutan udara.

    Dalam kesempatan sama, Direktur Pemasaran Korporat Pertamina Basuki Trikora Putra menyebutkan dalam aturan BPH Migas diperbolehkan adanya operator lain selain Pertamina.

    “Secara regulasi, sudah terbuka sesuai aturan BPH Migas, memberikan kesempatan kepada siapapun yang bisa memenuhi syarat memasarkan avtur di Indonesia, tapi saat ini Pertamina masih satu-ratunya yang melayani ke seluruh pelanggan maskapai di Indonesia,” katanya.

    Basuki menyebutkan maskapai yang paling banyak menggunakan avtur dari Pertamina adalah Garuda Indonesia sebesar 31 persen, Lion Air 24 persen, Citilink sembilan persen dan Sriwijaya delapan persen, sisanya maskapai lain.

    Sementara itu, ujarnya, untuk maskapai asing paling besar Qatar Airways sebesar 12 persen.

    “Kepada pelanggan maskapai domestik kami sangat mendukung dalam bangun bisnis transportasi yang lebih baik dan terjangkau. Sehingga, enggak ingin Pertamina sendiri, customer itu menjadi ujung tombak bisnis bangun bersama dalam konteks komersial badan usaha,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.