Target Ekspor Ikan 2020 Diprediksi Tak Tercapai

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas balai Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan menunjukan Lobster dibawah 200 gram ketika akan diekspor ke Cina di Bandara Soekarno Hatta, Banten, 30 Januari 2015. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Petugas balai Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan menunjukan Lobster dibawah 200 gram ketika akan diekspor ke Cina di Bandara Soekarno Hatta, Banten, 30 Januari 2015. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Machmud, memperkirakan target ekspor ikan sebesar US$ 5,5 miliar tahun ini tak tercapai.

     

    "Ekspor kita tahun ini kan US$ 5,5 miliar, cuma mungkin tercapainya sekitar US$ 4,8 sampai US$ 5 miliar," kata Machmud dalam Festival Perikanan Nusantara di Monumen Nasional atau Monas, Jakarta, Ahad, 24 November 2019.

    Sedangkan untuk tahun depan, kata dia, KKP menargetkan ekspor ikan meningkat jadi senilai US$ 6 miliar. "Dari jumlah, produk sekitar 1,2 juta ton, kalau bahan baku mungkin sekitar dua kali lipat sekitar 2,5 juta ton," kata dia.

    Dia menuturkan produk-produk itu tidak semua daging, namun ada yang dibuat beku, kupas, sashimi, dan loin. Loin yang merupakan sudah berbentuk daging dan kupas untuk udang, totalnya sekitar 1,2 juta ton. Sedangkan bahan baku utuh atau ikan utuhnya sekitar 2,5 juta ton. "Mudah-mudahan US$ 6 miliar tercapai."

    Adapun, kata dia, produk utama ekspor merupakan udang, tuna cakalang, rajungan kepiting, cumi sotong gurita, dan rumput laut. "Itu punya kita semua. Share kita juga sudah lumayan bagus di dunia," kata dia.

    Untuk negara tujuan ekspor utamanya tetap Amerika Serikat. "Tapi itu relatif stagnan karena pasarnya pasar dewasa, tradisional market namanya. Orang-orang (yang datang) rata-rata yang datang 47-48 tahun. Jadi pertumbuhan ada yang negatif ada yang stagnan," ujarnya.

    Karena itu, KKP akan membuka pasar-pasar tujuan ekspor baru seperti Cina, Timur Tengah, dan Afrika. Hal itu karena dia melihat pertumbuhan penduduk di negara-negara itu tinggi, sekitar 2 persen.

    "Itu ada peluang pasar kita di sana. Kalau Uni Eropa, Jepang, AS, itu pasar tradisional tapi pertumbuhannya stagnan tapi tetap besar. Misalnya udang di AS, rata-rata 500 sampai 600 ribu ton per tahun. Nomor satu India, nomor dua kita," kata dia.

    Sedangkan negara saingan ekspor Indonesia yaitu rata-rata negara di Asia seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina. Untuk produsen ikan juga ada di Ekuador dan Meksiko. Machmud mengatakan, pemerintah juga akan terus menggairahkan sektor budidaya ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?