Atasi Macet, BPTJ Akan Bangun LRT dari Baranangsiang ke Puncak

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepadatan Jalur Puncak Cisarua, Kabupaten Bogor, bertepatan dengan akhir pekan libur lebaran, Sabtu 8 Juni 2019. Kepadatan diperhitungkan meningkat dibandingkan hari sebelumnya. TEMPO/M. Sidik Permana

    Kepadatan Jalur Puncak Cisarua, Kabupaten Bogor, bertepatan dengan akhir pekan libur lebaran, Sabtu 8 Juni 2019. Kepadatan diperhitungkan meningkat dibandingkan hari sebelumnya. TEMPO/M. Sidik Permana

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek Bambang Prihartono menyebut salah satu solusi kemacetan di wilayah Puncak, Bogor, adalah dengan pembangunan kereta ringan alias LRT.

    "Untuk jangka panjang akan ada angkutan massal ke daerah puncak, kami akan bangun LRT dari Baranangsiang, melewati Gadog, hingga ke arah Puncak," tutur dia di Kantor Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi, Jakarta, Selasa, 19 November 2019. Meski demikian, ia belum menyebutkan kapan rencana itu direalisasikan.

    Bambang mengatakan penyediaan LRT itu penting lantaran hingga saat ini masyarakat belum memiliki alternatif angkutan massal ke arah puncak. Rencana jangka panjang itu akan melengkapi rencana jangka pendek, yakni rekayasa lalu lintas, dan rencana jangka menengah, yaitu pembangunan jalur alternatif.

    Di samping itu, pembangunan transportasi di Puncak, kata Bambang, ke depannya akan mengarah kepada aspek manusia. Ia mengatakan pembangunan transportasi modern memang berbeda dengan saat ini yang lebih ke pembangunan fisik.

    "Ke depan bangun manusia, karena itu di Puncak juga bicaranya bukan shifting antarmoda, tapi ada aksesibilitas," tutur dia. Salah satunya dengan percobaan sistem kanalisasi sehingga akses orangporang tidak terganggu. "Perencanaan modern ke depan bicara aksesibilitas, bukan bicara perpindahan antarmoda."

    Dalam rangka pembangunan di Puncak, Bambang mengatakan pemerintah mengusung tag line Amankan Puncak. Kalau berbicara mengamankan puncak, maka ia mengatakan pentingnya daya dukung. Faktor tersebut, ujar dia, tidak hanya bicara soal transportasi, tapi juga tata ruang, UMKM, hingga Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

    "Bagaimana puncak itu sebagai sumber resapan air itu tetap terpelihara dengan baik, tata ruangnya terpelihara dengan baik, pariwisatanya juga," kata ujar Bambang.

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?