Edhy Prabowo Ingin Kapal Sitaan Susi Dihibahkan Saja

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo saat mengikuti sidang kabinet pertama Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 24 Oktober 2019. TEMPO/Subekti.

    Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo saat mengikuti sidang kabinet pertama Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 24 Oktober 2019. TEMPO/Subekti.

    Tempo.Co, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo ingin kapal sitaan yang sudah inkracht bisa dihibahkan alias diserahkan tanpa melalui skema lelang. Ia mengatakan hal tersebut sesuai dengan keinginan para pemangku kepentingan di sektor kelautan dan perikanan.

    "Kalau bisa enggak usah lelang kenapa, misalnya kita berikan, tapi kan aturan-aturan tetap ada kan enggak bisa kita langgar," ujar dia di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Jakarta, Selasa, 19 November 2019.

    Edhy Prabowo mencatat kapal sitaan yang telah inkratch berjumlah 72 kapal. Rinciannya, 45 kapal kondisinya masih baik, enam kapal harus dimusnahkan, dan sisanya dalam kondisi yang kurang baik.

    Pembahasan soal nasib kapal terlantar dan kapal sitaan yang sudah inkracht dilakukan oleh Edhy Prabowo bersama dengan Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan Jaksa Agung ST Burhanuddin pada hari ini.

    Selepas rapat, ia mengatakan perlu ada pendalaman untuk kembali dibahas pada 10 Desember 2019. "Kami harapkan ini harus ada gunanya, harus ada manfaatnya apa, nanti beliau akan memutuskan kapal-kapal yang sudah inkracht arahnya akan bagaimana," tutur Edhy Prabowo.

    Salah satu pembahasannya, kata dia, kalau kapal itu akan dihibahkan akan seperti apa mekanismenya. Edhy Prabowo mengatakan penerima hibah kapal itu masih dalam kajian. Adapun alternatif penerima hibah kapal antara lain nelayan, pemerintah daerah, atau sekolah-sekolah.

    "Kami diminta untuk mengkaji dari sisi penerimanya. Dari sisi pelakunya. yang jelas memang ada aturan kalau hibahnya untuk di dalam negeri, di sisi kepemerintahan saja itu lebih mudah. Tapi kalau udah hibah harus ke luar, tergantung angka-angkanya lewat persetujuan dari tingkatan masing-masing," ujar dia.

    Berikutnya, untuk kapal mangkrak di pelabuhan yang kebanyakan adalah kapal eks asing, ujar Edhy, juga harus dicarikan kalan keluar agar tidak memenuhi ruang. "Apakah akan diberikan izin lagi atau seperti apa," kata dia. Ia mengatakan perkara itu juga akan masuk kajian.

    Pasalnya, ia menerima masukan dari pengusaha bahwa ada kapal yang dipesan dari luar negeri tak bisa melaut ketika masuk ke Tanah Air lantaran ada perubahan regulasi. Persoalan juga timbul dari kapal yang sudah di luar negeri dan hanya pindah nama saja.

    "Nah ini mau kita kaji dengan azas kehati-hatianan, yang jelas langkah-langkah ini kita harapkan bisa menghasilkan solusi dan ada penghasilan buat negara yang pada akhirnya bisa meningkatkan devisa kita," ujar Edhy Prabowo.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.