Realisasi Penerimaan Negara Seret, Simak Penjelasan Sri Mulyani

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (kanan) berbincang dengan Direktur Utama Tempo Media Group, Toriq Hadad dalam acara Tempo Country Contributor Award 2019 di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, 15 November 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati (kanan) berbincang dengan Direktur Utama Tempo Media Group, Toriq Hadad dalam acara Tempo Country Contributor Award 2019 di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, 15 November 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, hingga akhir Oktober 2019, realisasi penerimaan negara dan hibah telah mencapai Rp1.508,91 triliun atau 69,69 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019. Angka itu lebih rendah jika dibandingkan periode sama pada tahun lalu yakni mencapai 21,3 persen.

    Menurut Sri Mulyani, penurunan pertumbuhan pendapatan negara dan hibah itu dikarenakan sektor sumber daya alam turun. "Jadi kita lihat di sini dari asumsi SDA-nya yakni minyak dan gas hasilnya (turun) cukup dalam. Karena volumenya rendah, harganya rendah, dan kurs kita yang lebih kuat," kata dia aat paparan APBN Kita di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin, 18 November 2019.

    Menurut Sri Mulyani, hal ini akan mempengaruhi penerimaan pajak migas. Karena itu, PNBP pasti menjadi lebih rendah. "Onilah yang menjadi salah satu tekanan di dalam APBN penerimaan," kata dia.

    Adapun capaian pendapatan negara tersebut terdiri atas penerimaan perpajakan yang terealisasi sebesar Rp1.173,89 triliun atau 65,71 persen, penerimaan negara bukan pajak ( PNBP) yang telah terealisasi sebesar Rp333,29 triliun atau 88,10 persen, dan penerimaan hibah yang terealisasi sebesar Rp1,72 triliun atau 395,55 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN 2019.

    Sri Mulyani juga menjelaskan bahwa pelemahan dalam penerimaan ini juga disebabkan oleh perekonomian global  yang masih menekan kondisi domestik. Oleh karena itu, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut akan terus memperbaiki tren Gr menjadi lebih baik. "Ini kodisi ekonomi kita hadapi, kita akan coba kelola utnuk perbaikan trennya," tuturnya.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.