Menperin KIaim Sektor Manufaktur Masih Diminati Investor Global

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah karyawan PT Solo Manufaktur Kreasi sedang merakit transmisi untuk kendaraan pikap Esemka Bima di pabrik perakitan mobil Esemka di Boyolali, 6 September 2019. TEMPO/Wawan Priyanto

    Sejumlah karyawan PT Solo Manufaktur Kreasi sedang merakit transmisi untuk kendaraan pikap Esemka Bima di pabrik perakitan mobil Esemka di Boyolali, 6 September 2019. TEMPO/Wawan Priyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita optimistis Indonesia masih menjadi negara tujuan utama investasi di sektor manufaktur.

    Dia menyampaikan keyakinannya itu didasarkan pada potensi yang dimiliki Indonesia dengan ketersediaan pasar yang besar dan bahan baku yang melimpah. Di samping itu, ungkapnya, Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) industri yang cukup banyak dan kompetitif.

    Dengan potensi itu, Agus mengklaim bahwa beberapa pemodal besar tertarik untuk mengembangkan industri di Indonesia. 

    “Sejumlah investor skala global telah menyatakan minatnya untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi mereka guna memenuhi kebutuhan di pasar domestik hingga ekspor,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip, Senin 18 November 2019.

    Berdasarkan catatan Kemenperin, pada periode Januari-September 2019, penanaman modal dalam negeri (PMDN) dari sektor industri manufaktur mencapai Rp52,8 triliun yang terdiri dari 5.133 proyek.

    Untuk PMDN, tiga sektor dengan investasi terbesar adalah industri makanan dengan nilai investasi hingga Rp26,4 triliun (1.649 proyek), industri logam, mesin dan elektronik serta industri instrumen kedokteran, presisi, optik dan jam dengan realisasi Rp7,6 triliun (656 proyek), serta  industri kimia dan farmasi mencapai Rp6,8 triliun (678 proyek).

    Pada periode yang sama, Kemenperin mencatat penanaman modal asing (PMA) di sektor manufaktur mencapai US$6,3 miliar yang terdiri dari 7.210 proyek. Industri logam, mesin dan elektronik, serta industri instrumen kedokteran, presisi, optik dan jam menjadi kontributor utama untuk PMA dengan nilai investasi mencapai US$2,3 miliar (1.520 proyek).

    Menyusul, industri kimia dan farmasi dengan nilai investasi US$1 miliar (940 proyek) dan industri makanan sebesar US$1 miliar (1.359 proyek).

    Sementara itu, berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi di sektor manufaktur pada periode Januari - September 2019 tercatat senilai Rp147,3 triliun. Realisasi itu menurun sekitar 13,15% (year-on-year/yoy) sebab pada Januari - September 2018 arus investasi ke manufaktur nasional tercatat senilai Rp 169,6 triliun.

    Padahal, secara keseluruhan investasi meningkat. BKPM melaporkan otal investasi nasional pada Januari - September 2019 tumbuh 12,3 persen (yoy) menjadi Rp601,3 triliun. Sektor jasa masih menjadi kontributor utama dengan realisasi investasi mencapai Rp354,6 triliun.

    Menperin mengatakan pihaknya memberikan perhatian serius terhadap upaya memacu nilai investasi dari sektor manufaktur. Pasalnya, aktivitas industrialisasi dinilai dapat membawa efek berganda yang luas terhadap perekonomian nasional, antara lain peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.