Bukan Ahok, Dahlan Iskan Sebut Nama Ini Lebih Cocok Jadi Bos BUMN

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama atau Ahok tiba di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019. Ahok menghadiri acara pelantikan Anggota DPRD DKI Jakarta. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama atau Ahok tiba di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019. Ahok menghadiri acara pelantikan Anggota DPRD DKI Jakarta. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Bekas Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan justru menyebut seorang tokoh lain kala mengulas soal kabar penunjukkan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai pejabat salah satu perusahaan pelat merah. Tokoh tersebut adalah mantan Menteri Pariwisata Arief Yahya.

    "Saya justru tertarik pada sosok lain. Yang sudah nyata-nyata berhasil menarik benang dan menjaga tepung yaitu Arief Yahya. Ia mantan Menteri Pariwisata yang sayang sekali tidak lagi mendapat kursi hanya karena ia tidak punya partai," ujar Dahlan dalam laman pribadinya, disway.id, Sabtu, 16 November 2019.

    Pernyataan Dahlan soal benang dan tepung berkaitan dengan filsafat 'benang berhasil ditarik, tepung tidak terhambur'. Ia mengatakan penerapan filsafat itu kadang kala salah dalam penerapannya, yakni tepung memang tidak terhambur tapi benangnya tidak tercabut. "Banyak perusahaan yang tenang tapi juga tidak maju."

    Dahlan Iskan memang mengingatkan pemerintah agar tetap memegang prinsip perusahaan perlu ketenangan. "Perusahaan tidak bisa maju kalau hebohnya lebih besar dari kerjanya," ujar Dahlan. Ia mengatakan perseroan perlu kestabilan, khususnya perusahaan besar.

    Ia mengatakan perseroan besar ibarat kapal besar yang mesti tidak mudah dibelok-belokkan. "Memang, bisa juga sukses diraih lewat kehebohan. Tapi sukses seperti itu biasanya hanya di permukaan. Dan untuk jangka pendek," tutur Dahlan.

    Dalam tulisannya, Dahlan mengatakan Arief Yahya adalah menteri yang tidak menimbulkan kehebohan tetapi memiliki hasil nyata. "Target tercapai dan bisa meletakkan pondasi," ujar dia. Hal tersebut berbeda dengan karakter pemimpin yang mementingkan sukses jangka pendek atau pemimpin yang hanya bisa meletakkan pondasi.

    Menurut Dahlan, Arief Yahya bisa mengerjakan dua-duanya tanpa perlu heboh-heboh. Sehingga, pada 2019 ini pariwisata diklaim bisa mencetak US$ 20 miliar. "Jenis orang seperti Arief Yahya itulah yang saya maksud dengan orang yang berprestasi, bahkan di bidang yang berbeda sama sekali pun," tutur dia.

    Dalam tulisan yang sama, Dahlan juga sempat melontarkan sebuah pertanyaan soal rencana penunjukkan Ahok. "Apakah BTP itu orang berprestasi? Sehingga akan ditempatkan di salah satu BUMN?" tulis Dahlan. Pertanyaan itu menyambung pernyataan awal Dahlan dalam tulisannya bahwa orang berprestasi cenderung sukses ditempatkan di mana pun. Ia mengatakan kesimpulan itu datang dari pengalaman panjangnya 30 tahun menggeluti dunia manajemen.

    Menurut Dahlan, rencana penunjukkan Ahok sebagai pejabat di BUMN adalah langkah yang sangat baik, bila bekas Gubernur DKI Jakarta memang dianggap sebagai orang berprestasi. Terlepas siapa pun Ahok, bagaimana latar pendidikannya, hingga perjalanan karirnya.

    "Bagaimana kalau ada penilaian BTP itu hanya berprestasi dalam membuat kehebohan? Terserah yang menilai dan yang diberi nilai," kata Dahlan. Tapi, kalau begitu, menurut dia, maka penempatan Ahok di BUMN adalah sebuah perjudian. Ia pun mempertanyakan apakan BUMN adalah perusahaan yang layak diperjudikan.

    Dahlan juga mempertanyakan mengapa isu tersebut sudah membuat heboh. Padahal isu tersebut masih di tingkat rencana, dengan fakta bahwa Ahok telah dipanggil Menteri BUMN Erick Thohir dan pernyataan bekas Bupati Belitung Timur tersebut bahwa ia dipanggil untuk ditempatkan di salah satu BUMN.

    "Belum ada indikasi di BUMN mana juga belum jelas sebagai apa. Masih banyak fakta yang harus saya lihat untuk bisa berkomentar lebih panjang," kata Dahlan.

    Sebelumnya, dua sumber Tempo di internal Kementerian BUMN membenarkan soal rencana pengangkatan Ahok sebagai komisaris utama Pertamina. Rencananya, Ahok resmi menjabat Komisaris Utama Pertamina menggantikan Tanri Abeng pada akhir November ini.

    Kabar Ahok akan menjadi komisaris utama Pertamina itu merebak setelah bekas Gubernur DKI Jakarta itu datang memenuhi undangan Erick Thohir. Dalam pertemuan selama satu setengah jam itu, Ahok mengaku banyak berdiskusi dengan Erick seputar perusahaan BUMN.

    Sebelum meninggalkan Kementerian, Ahok menuturkan dirinya diminta terlibat di salah satu perusahaan pelat merah. Ia pun menerima tawaran itu.

    Namun, Ahok mengaku tidak tahu soal jabatan untuknya. "Jabatannya apa dan BUMN mana, saya tidak tahu, silahkan tanya ke Pak Menteri," ucap Ahok, Rabu, 13 November 2019.

    CAESAR AKBAR | EKO WAHYUDI | VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.