Staf Khusus Erick Thohir Minta SP Pertamina Beri Ahok Kesempatan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama atau Ahok tiba di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019. Ahok menghadiri acara pelantikan Anggota DPRD DKI Jakarta. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama atau Ahok tiba di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019. Ahok menghadiri acara pelantikan Anggota DPRD DKI Jakarta. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Jakarta - Staf khusus Menteri BUMN Erick Thohir, Arya Sinulingga, meminta Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersama (FSPPB) memberi kesempatan kepada Basuki Thahaja Purnama atau Ahok untuk membuktikan kinerjanya di perusahaan pelat merah. Pernyataan ini merespons penolakan FSPPB terhadap Ahok yang dikabarkan bakal menempati pos Komisaris Utama di perusahaan minyak negara.

    "Siapa pun pemimpin kita, ya terimalah dengan baik. Apa lagi kan ini belum diuji di BUMN. Belum-belum sudah menolak," ujar Arya saat dihubungi Tempo pada Sabtu, 16 November 2019.

    Presiden FSPPB Arie Gumelar sebelumnya menyatakan menolak Ahok bergabung di Pertamina. Ia beralasan Ahok adalah tokoh yang kesohor kerap membuat kegaduhan.

    Berdasarkan pesan pendek kepada Tempo pada Jumat petang lalu, Arie khawatir karakter mantan Gubernur DKI Jakarta yang acap menggebu-gebu ini akan berdampak pada organisasi Pertamina. Ia juga was-was ke depan hal ini bakal mempengaruhi distribusi energi dan pelayanan BBM kepada masyarakat.

    Menanggapi alasan itu, Arya meminta serikat pekerja perusahaan pelat merah bersikap profesional. Menurut dia, sebagai pegawai, semestinya pekerja menerima siapa pun pemimpinnya. Apalagi, ia menyebut Ahok memiliki sikap transparan yang telah diakui banyak orang.

    "Ahok ini kita lihat sebagai sosok profesional. Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa dia memang profesional yang memang membawa simap transparansi," ucapnya.

    Koran Tempo edisi Kamis, 14 November menulis Ahok disinyalir bakal menjadi calon kuat Komisaris Utama Pertamina. Dua sumber Tempo di internal Kementerian BUMN menyatakan bahwa Presien Joko Widodo sendirilah yang meminta Ahok menjabat sebagai bos BUMN. "Permintaan itu dari Presiden, bukan Erick yang mengusulkan ke Istana,” tutur sumber.

    Penunjukan Ahok sebagai bos BUMN diperkuat dengan pemanggilannya ke Kementerian BUMN oleh Menteri Erick Thohir pada Rabu, 13 November lalu. Saat ditemui wartawan, bekas Gubernur DKI Jakarta itu menuturkan dirinya diminta terlibat di salah satu perusahaan pelat merah.

    Ahok lalu mengakui menerima tawaran tersebut. Namun, soal posisi yang akan ditempati, dia menyatakan belum tahu. "Jabatannya apa dan BUMN mana, saya tidak tahu, silakan tanya ke Pak Menteri," ucap Ahok. 

    Hingga berita diturukan, Ahok belum bisa dimintai tanggapan terkait penolakan dari FSPPB. Pesan yang dikirim Tempo belum dibalas.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA | KORAN TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.