Perbankan Makin Selektif, Perusahaan Pembiayaan Tumbuh Tipis

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Bank Indonesia. REUTERS/Iqro Rinaldi/File Photo

    Logo Bank Indonesia. REUTERS/Iqro Rinaldi/File Photo

    TEMPO.CO, Jakarta - Selektifnya perbankan dalam penyaluran kredit menekan pendanaan yang diterima perusahaan pembiayaan. 

    Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan pertumbuhan pendanaan multifinance yang tipis pada kuartal III/2019 harus disikapi dengan wajar. Hal itu disebabkan kasus double financing dan multiple financing yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan pembiayaan. 

    “Pertumbuhan [pendanaan] yang kecil sebabnya dua, yaitu likuiditas bank ketat dan bank selektif. Mereka cenderung mendanai perusahaan dengan kepemilikan bank dan diler,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Kamis 14 November 2019.

    Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pendanaan perusahaan pembiayaan hanya tumbuh 0,44 persen. Pendanaan dari dalam negeri (onshore) turun 1,99 persen (year on year) menjadi Rp177,19 triliun per September 2019 dibandingkan dengan September 2018 senilai Rp180,78 triliun.

    Sementara pendanaan dari luar negeri tumbuh sekitar 4,74 persen (yoy) menjadi Rp105,92 triliun per September 2019 dibandingkan dengan September 2018 senilai Rp101,08 triliun. 

    Suwandi memprediksi pendanaan pada kuartal IV/2019 tidak akan berbeda jauh dengan kondisi pada kuartal sebelumnya, mengingat tinggal beberapa bulan lagi. 

    Sementara itu, data yang sama juga menunjukkan penerbitan surat utang yang bahkan minus hingga 14,10 persen menjadi Rp67,79 triliun per September 2019, dibandingkan dengan September 2018 senilai Rp78,91 triliun.

    Menurut Suwandi, penerbitan surat utang tidaklah mudah seiring dengan lebih besarnya minat investor membeli obligasi yang diterbitkan oleh BUMN di sektor infrastruktur. 

    "Kinerja pembiayaan masih untung, meski naiknya kecil. Namun, loan to deposit ratio [LDR] bank juga sudah tinggi. Jadi tantangan pendanaan ini harus kita sikapi dengan wajar," tuturnya.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.