Kisah Ivan dan Duit Rp 417 Jutanya yang Amblas di Kampoeng Kurma

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kantor PT Kampoeng Kurma Group  di Jalan Pangeran Assogiri, Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, seperti yang terlihat Kamis 14 November 2019. Tempo/M Sidik Permana

    Kantor PT Kampoeng Kurma Group di Jalan Pangeran Assogiri, Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, seperti yang terlihat Kamis 14 November 2019. Tempo/M Sidik Permana

    TEMPO.CO, Jakarta - Warga masyarakat kini tengah dihebohkan oleh berita penipuan investasi atau investasi bodong Kampoeng Kurma. Pasalnya investasi bodong yang menggunakan embel-embel syariah pada produknya itu telah merugikan sampai ratusan orang.

    Salah satu korban investasi bodong Kampoeng Kurma bernama Irvan Nasrun. Ia, mengatakan pada Jumat, 8 November 2019 telah bertemu dengan pihak manajemen Kampoeng Kurma untuk diberikan penjelasan kenapa korporasi tidak bisa memenuhi kewajibannya.

    "Mereka bilang sekarang sedang mengalami kesulitan keuangan. Mereka bilang uang kasnya sisa Rp 5 juta," kata Ivan ketika dihubungi, Kamis 14 November 2019.

    Irvan menuturkan alasan pihak Kampoeng Kurma mengalami kesulitan pendanaan karena ada perubahan manajemen. Karena pihak pengelola sebelumnya melakukan penghabisan kas perusahaan, dan ketika mengalami sulit bayar baru dilimpahkan kepada manajemen yang sekarang.

    Namun alasan tersebut tidak bisa diterima oleh Irvan karena Direktur sebelumnya adalah suami dari pengelola Kampoeng Kurma saat ini. Selain itu dengan nominal uang Rp 5 juta yang disebutnya kas usaha sangat tidak mungkin bisa menjalankan usahanya secara lancar. "Mereka beralasan uangnya dihabiskan manajemen lama, yang padahal masih satu keluarga."

    Oleh karena itu Irvan mengumpulkan teman-teman yang mengalami nasib serupa untuk segera menuntut pengembalian dana investasi Kampoeng Kurma. Ketika dikumpulkan, jumlah korbannya mencapai ratusan orang.

    Sebelum melakukan pertemuan tersebut, dirinya pun selalu mempertanyakan progress investasinya kepada para staf Kampoeng Kurma, namun tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lalu Irvan coba mencari kejelasan hingga ke tingkat Direktur, namun hasilnya sama. "Saya tanya oleh direkturnya tapi malah memblok nomor saya," kata dia.

    Irvan menceritakan awal mula ketertarikan kepada investasi Kampoeng Kurma, yakni dengan satu kavling dengan luas 400 meter persegi untuk ditanami lima pohon kurma. Kelima pohon itu jika berbuah selama lima tahun kemudian akan menghasilkan keuntungan kurang lebih Rp 150 juta. "Dan setiap tahunnya dijanjikan akan berbuah," ungkap dia.

    Setelah mendengar tawaran itu, Irvan tertarik untuk menginvestasikan dananya sebesar Rp 99 juta untuk satu kavling pada Januari 2018. Lalu pada pertengahan 2018, ia menambahkan enam kavling dengan total dana saat ini yang masih mengendap di perusahaan Kampoeng Kurma sebesar Rp 417 juta.

    Namun, janji tersebut tidak kunjung diwujudkan oleh PT Kampoeng Kurma Group. Walhasil membuat ratusan investor kecewa dan meminta mereka untuk mengembalikan dana pembelian lahan kavling tersebut.

    Berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo.co, PT Kampoeng Kurma Group menawarkan investasi berupa tanah kaveling seluas 400-500 meter persegi. Setiap kaveling  ditanami lima pohon kurma. Ada juga kaveling kebun ditambah kolam berisi 10 ribu bibit ikan lele.

    Manajemen Kampoeng Kurma menjanjikan hasil besar dengan pengelolaan dan perawatan pohon oleh Kampoeng Kurma selama lima tahun dan pembeli akan dapat bagi hasil secara syariah. Ada lima lokasi yang ditawarkan yang akan dijadikan sebagai perkebunan kurma yakni di wilayah Jonggol, Tanjungsari, Cirebon, Jasinga, dan Cianjur.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.