Angkasa Pura: Alih Rute ke Bandara Yogyakarta Kelar Januari 2020

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang keluar dari area bandara seusai mendarat dengan pesawat komersial Citilink saat penerbangan perdana di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulonprogo, DI Yogyakarta, Senin 6 Mei 2019. Saat ini Bandara YIA mulai beroperasi untuk penerbangan komersial. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    Penumpang keluar dari area bandara seusai mendarat dengan pesawat komersial Citilink saat penerbangan perdana di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulonprogo, DI Yogyakarta, Senin 6 Mei 2019. Saat ini Bandara YIA mulai beroperasi untuk penerbangan komersial. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Angkasa Pura I (persero) menargetkan pengalihan rute domestik Bandara Adisutjipto ke Bandara Internasional Yogyakarta (Yogyakarta International Airport/YIA) di Kabupaten Kulon Progo bisa diselesaikan pada Januari 2020. Pelaksana tugas General Manager Bandara Internasional Yogyakarta , Agus Pandu Purnama, mengatakan bandara anyar itu bakal mengelola lebih dari 180 jadwal penerbangan dalam negeri.

    "Mulai 28 Januari penerbangan domestik sudah harus dari YIA," ucapnya kepada Tempo, Rabu 13 November 2019.

    Dia membenarkan pengelola sempat menargetkan pergeseran 65 rute atau sekitar 40 persen rute domestik Adisutjipto pada bulan lalu. Namun, perusahaan menimbang kebutuhan operasional masa liburan akhir tahun. "Butuh banyak penyesuaian," kata Agus. "Belum ada peralihan, sekarang YIA masih mengelola 26 rute baru."

    Menurut Agus, peralihan bisa dikebut di akhir tahun karena kelengkapan navigasi sudah dipenuhi mulai dari menara kontrol dan teknologi performance based navigation (PBN). Landas pacunya yang sepanjang 3.250 meter kini sudah dimanfaatkan lima maskapai lokal, termasuk AirAsia Indonesia. "Rencananya ada 156 flight domestik yang digeser awal tahun depan. Kalau rute asing, tunggu April 2020."

    Sekretaris Perusahaan PT Angkasa Pura I (persero), Handy Heryudhitiawan, mengatakan masih mematangkan proses pemindahan rute domestik. Perusahaan tak ingin rencana itu menambah pengeluaran. "Kalau perpindahan setengah-setengah, konsekuensinya ke bujet dan sumber daya."

    Pemindahan jadwal, kata Handy, harus disesuaikan dengan kebutuhan maskapai, khususnya mengenai jalur transit. "Sebagian flight domestik kan berlanjut ke rute internasional. Kami masih diskusi dengan operator."

    Ketua Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA), Denon Berriklinsky Prawiraatmadja, membenarkan bahwa maskapai akan mempertahankan rute bila tingkat keterisiannya bagus. "Pola pengalihan dari pemerintah itu positif, tapi kalau load factor kecil, maskapai sulit bertahan."

    Direktur Niaga Garuda Indonesia, Pikri Ilham Kurniansyah, menginginkan infrastruktur YIA diselesaikan sepenuhnya sebelum menggeser seluruh rute dari Bandara Adisutjipto. Di Kulon Progo, Grup Garuda Indonesia baru memasukan 9 jadwal penerbangan yang beroperasi di akhir pekan. "Kami nunggu infrastrukturnya lengkap dulu, kalau tak salah baru Juni 2020," katanya kepada Tempo.

    Dia optimistis perusahaan tak akan mencabut rute yang dipindahkan. Garuda Indonesia dan Citilink sebelumnya sempat menghentikan penerbangan dari dan ke Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, akibat okupansi yang rendah. Rute domestik Kertajati merupakan hasil peralihan dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung.

    Presiden Direktur Lion Air, Edward Sirait, pun mengaku tak ragu mengurangi frekuensi penerbangan ke bandara baru bila tak produktif. "Kalau market tak tumbuh malah pemborosan. Avtur kan bukan air," katanya. "Kami selalu punya kalkulasi saat membuka rute baru," katanya akhir bulan lalu."

    YOHANES PASKALIS PAE DALE | PRIBADI WICAKSONO | MUHAMMAD SYAIFULLAH

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.