Analis Sebut Bom Bunuh Diri di Medan Tak Sebabkan IHSG Rontok

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas di hari pertama perdagangan saham di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. IHSG naik 84,68 poin (1,36%) ke 6.293,801. TEMPO/Tony Hartawan

    Aktivitas di hari pertama perdagangan saham di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. IHSG naik 84,68 poin (1,36%) ke 6.293,801. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menjelang penutupan perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu, 13 November 2019 tercatat melemah 0,61 persen ke level 6.144.60 pada pukul 15.11 WIB. Sepanjang perdagangan, IHSG tercatat terus melemah sejak dibuka.

    Berdasarkan RTI, sepanjang perdagangan tercatat sebanyak 252 emiten tercatat melemah, 136 eminta menguat. Serta sisanya sebanyak 145 emiten saham tercatat tak bergerak.

    Kendati melemah, sepanjang sesi investor asing tercatat masih mengalami net buy atau aksi beli bersih sebanyak RP 365,61 miliar di seluruh pasar. Jika dirinci, aksi beli bersih paling banyak terjadi di pasar negosiasi sebesar Rp 559,82 miliar.

    Analis Binartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta membantah bahwa pelemahan IHSG sampai menjelang ditutup karena adanya aksi bom di Kepolisian Resor Kota Medan, Sumatera Utara. Pelemahan itu, lebih banyak karena sentimen eksternal.

    "Aksi terorisme yang terjadi pada hari ini tidak ada kaitannya dengan pelemahan IHSG sampai saat ini. Pelemahan IHSG lebih dipengaruhi sentimen eksternal," kata Nafan ketika dihubungi Tempo, Rabu 13 November 2019.

    Hal ini, kata Nafan, terlihat dengan pelemahan yang sama di sejumlah indeks regional Asia. Misalnya, seperti indeks Singapura 0,77 persen, Nikkei 225 0,85 persen, Hang Seng 1,82 persen hingga Shanghai 0,33 persen.

    Nafan melanjutkan, pelemahan IHSG juga terimbas sejumlah sentimen global seperti perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat (AS). Kesepakatan yang belum tercapai antara kedua negara masih membuat ketidakpastian global.

    "Selain itu, aksi demonstrasi di Hong Kong yang semakin masif serta US-China trade negotiations uncertainty itu yang paling utama," kata Nafan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.