Dua Bulan Lagi, 8 BUMN Guyur Modal ke LinkAja

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana penandatanganan kerja sama perluasan layanan antara Bank Mandiri dan Link Aja di Plaza Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat, 1 November 2019. Penandatanganan tersebut dilakukan oleh Senior Executive Vice President (SEVP) Consumer and Transaction Bank Mandiri Jasmin (kiri) dan Direktur Utama Fintek Karya Nusantara Danu Wicaksana (kanan), disaksikan oleh Direktur Bisnis dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi (tengah). TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Suasana penandatanganan kerja sama perluasan layanan antara Bank Mandiri dan Link Aja di Plaza Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat, 1 November 2019. Penandatanganan tersebut dilakukan oleh Senior Executive Vice President (SEVP) Consumer and Transaction Bank Mandiri Jasmin (kiri) dan Direktur Utama Fintek Karya Nusantara Danu Wicaksana (kanan), disaksikan oleh Direktur Bisnis dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi (tengah). TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Fintek Karya Nusantara atau LinkAja, Danu Wicaksana mengatakan akan ada 8 Badan Usaha Milik Negara yang akan menyuntikkan dana pada penyedia layanan uang elektronik itu.  Menurut dia, hal itu akan terealisasi pada satu hingga dua bulan ke depan. 

    "Dana akan digunakan untuk edukasi dan perluasan pasar," kata Danu usai acara kerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek di Telkom Landmark Tower, Jakarta, Rabu, 13 November 2019.

    Namun, Danu enggan membeberkan nilai suntikan dana terbaru itu. Adapun 8 BUMN tersebut, yaitu PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Jasa Marga (Persero) Tbk., PT Taspen (Persero), PT Pegadaian (Persero), PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero), PT Damri (Persero), dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

    Selain untuk perluasan pasar, kata dia, masih banyak hal yang akan dilakukan LinkAja untuk pengembangan perseroan.

    "Satu sampai dua bulan kedepan banyak sih. Karena ditambah terus. Jadi peranya harus semakin dekat dengan uang tunai. Uang tunai kan bisa dipakai di mana saja," ujar dia

    Adapun sebelumnya LinkAja memastikan jumlah pemegang saham perusahaan akan bertambah dengan masuknya tujuh perusahaan pelat merah. Sejak beroperasi sekitar Maret 2019, 25 persen saham financial technology (fintech) dengan produk LinkAja ini dimiliki oleh PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel).

    Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. masing-masing menguasai sekitar 20 persen.

    Adapun PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. dan PT Pertamina (Persero) masing-masing memegang 7 persen, sedangkan PT Asuransi Jiwasraya sebesar 1 persen.

    Danu mengatakan selain perusahaan pelat merah, LinkAja juga sudah dilirik oleh instansi swasta. Namun, keputusan akhir nantinya masih dalam pertimbangan.

    Menurutnya, minat yang besar untuk masuk menjadi pemegang saham LinkAja didasari kemampuan produk dalam membuktikan perannya sebagai uang elektronik Indonesia. LinkAja diklaim telah berhasil menyentuh masyarakat yang tidak bankable untuk turut mendapatkan layanan keuangan dan mengurangi transaksi tunai.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?