Sandiaga Sebut Rencana Jokowi Tambah Wamen Tak Bisa Dipahami

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cawapres nomor urut 01 K.H. Ma'ruf Amin (kiri) berbincang dengan Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno (kanan) usai mengikuti Debat Capres Putaran Ketiga di Hotel Sultan, Jakarta, Ahad, 17 Maret 2019. ANTARA/Wahyu Putro A

    Cawapres nomor urut 01 K.H. Ma'ruf Amin (kiri) berbincang dengan Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno (kanan) usai mengikuti Debat Capres Putaran Ketiga di Hotel Sultan, Jakarta, Ahad, 17 Maret 2019. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengusaha Sandiaga Uno mengatakan belum memahami logika pemerintah yang ingin memangkas eselon di tubuh kementerian namun menambah jabatan wakil menteri (Wamen). Sebab semula dia menangkap sinyal bahwa pemerintah bakal melakukan downsizing (efisiensi).

    "Tapi downzising ternyata diikuti oleh kebijakan menambah, jadi ini perlu dijelaskan kepada masyarakat. Apakah ini upsizing, dengan menambah tingkat pejabat pimpinan karena wakil menteri ditambah," kata Sandiaga di Satrio Tower, Jakarta Selatan, Selasa 12 November 2019.

    Sebagai pengusaha, dirinya menyatakan bahwa pemerintah perlu menciptakan ruang yang lebih jelas terkait pemangkasan eselon atau penambahan wamen. Sebab, yang perlu dilakukan pemerintah adalah menyiapkan regulasi supaya lebih membuka peluang dan ruang bagi pengusaha.

    Menurut Sandi, dengan kebijakan apapun, diharapkan bisa memberikan efek bagi terciptanya insentif maupun dorongan bagi pertumbuhan ekonomi. Karenanya, pemerintah harus mampu memberikan sinyal bahwa kebijakan itu tetap mendukung bagi iklim investasi bagi pelaku usaha dan perekonomian.

    Kendati demikian, Sandiaga tak ingin menyebut bahwa dengan penambahan wamen membuat komposisi kabinet menjadi lebih gemuk. Dia mengatakan, pemerintah mesti jelas bahwa pemangkasan eselon maupun menambah wamen adalah bagian dari efisiensi penyusunan kebijakan.

    "Tapi kalau ini hanya untuk menambah bagi-bagi jabatan dan atau bagi-bagi kursi, ini yang perlu kita hindari," kata mantan calon wakil presiden ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.