Indonesia Menempati Peringkat Empat untuk Investasi Syariah

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peluncuran Fitur Wakaf Pada Manfaat Asuransi dan Investasi Produk Syariah Sun Life di restoran Kembang Goela, Plaza Sentral Sudirman, Jakarta, 14 Agustus 2017. Bayu Putra/TEMPO

    Peluncuran Fitur Wakaf Pada Manfaat Asuransi dan Investasi Produk Syariah Sun Life di restoran Kembang Goela, Plaza Sentral Sudirman, Jakarta, 14 Agustus 2017. Bayu Putra/TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Peringkat Islamic Finance Development Indicators (IFDI) Indonesia atau Indikator Perkembangan Investasi Syariah melompat dari posisi kesepuluh pada tahun lalu menjadi posisi keempat pada tahun ini. 

    Proposition Manager at Islamic Finance Team Revinitiv Thomson Reuters Shaima Hassan menuturkan perkembangan keuangan syariah di Indonesia cukup pesat dalam satu tahun terakhir.

    "Hal tersebut cukup kuat meningkatkan enam peringkat posisi Indonesia dalam satu tahun. Ini lompatan yang baik," katanya dalam Konferensi Pers, Komite Nasional Keuangan Syariah, Selasa 12 November 2019.

    Dia menuturkan, pada tahun ini pemerintah telah menyusun roadmap pengembangan ekonomi serta keuangan syariah Tanah Air yang cukup detail. 

    Hal ini membantu semua pemangku kepentingan, termasuk pelaku industri, agar mengerti tentang kondisi, serta tantangan, sehingga mampu membuat sebuah rencana bisnis yang jelas untuk pengembangan ekonomi syariah.

    Di sisi lain, Saima menyampaikan regulasi yang pemerintah Indonesia buat dalam mendukung pengembangan ekonomi syariah cukup kuat, mulai dari sertifikasi halal hingga mandatori untuk spin off dari unit-unit syariah perbankan.

    "Jadi, Indonesia masih memiliki ruang untuk menumbuhkan keuangan syariah yang saat ini masih berada di kisaran 5 persen," terangnya.

    Meski demikian, Shaima menggarisbawahi kegiatan promosi yang Indonesia lakukan untuk ekonomi syariah masih terbatas. Banyak kegiatan yang tidak terpublikasi dengan baik.

    Hal itu berdampak pada kurangnya pengetahuan masyarakat tentang perkembangan dalam kegiatan ekonomi syariah yang dilakukan.

    "Hal ini juga berdampak pada minimnya pengetahuan masyarakat internasional tentang ekonomi syariah di Indonesia. Padalah publikasi yang baik juga bisa berdampak pada foreign direct investment," ucapnya.

    Shaima juga mengutarakan masih terbatasnya kemampuan pelaku industri keuangan syariah dalam membiayai proyek-proyek besar seperti infrastruktur.

    Menurutnya, pelaku industri keuangan harus cepat memanfaatkan perkembangan instruktur di Indonesia yang cepat guna meningkatkan market share.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?