Ekonomi Lesu, Industri Makanan Minuman Sulit Capai Target

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adinegara memperkirakan sektor industri makanan dan minuman tumbuh di atas 10 persen tahun depan. Sektor ini akan terdorong belanja politik hingga 2019 mendatang. TEMPO/Tony Hartawan

    Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adinegara memperkirakan sektor industri makanan dan minuman tumbuh di atas 10 persen tahun depan. Sektor ini akan terdorong belanja politik hingga 2019 mendatang. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim mengakui pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) pada akhir tahun sulit mencapai target 9 persen. Menurutnya, ketidak tercapaian itu dipengaruhi banyak faktor salah satunya investasi.

    "Saya berharap masih di atas 8 persen. Kayaknya agak berat kalau di angka 9 persen, apalagi dipengaruhi semester satu. Pertumbuhan di triwulan tiga sudah mulai bagus. Tapi karena di semester satunya masih kurang bagus sehingga ngejarnya di 9 persen rada berat," kata dia di kantornya, Jakarta, Senin, 11 November 2019.

    Karena pada semester satu lalu hanya mencapai 7,4 persen, dan perkembangan pada kuartal tiga baru menyentuh angka 7,72 persen.

    Selain faktor investasi, Rochim menuturkan, hal tersebut juga dipengaruhi oleh ekspor dan impor makanan dan minuman yang menurun karena harga komoditas yang turun. "Impor juga pertumbuhan kan ada hitungannya. Pertumbuhan dari sisi produksi ekspor impor dihitung semua oleh BPS (Badan Pusat Statistik)," tambahnya.

    Rochim berharap sampai akhir tahun 2019 industri makanan dan minuman hanya bisa mencapai 8,2 persen dengan didukung oleh pabrik-pabrik yang baru beroperasi dan agenda akhir tahun seperti natal serta tahun baru menyebabkan konsumsi masyarakat meningkat karena kebutuhannya merayakan perayaan tersebut.

    "Harapannya di atas 8 persen. Tapi delapannya engga sampai delapan setengah ya. Di 8,1 atau 8,2 persen," ungkap dia.

    Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan untuk target 9 persen pun dirasa berat olehnya. "Kita perlu inisiatif pemerintah untuk mendorong ini. Walaupun saya ragu tahun depan bisa tumbuh double digit tapi 8-9 persen bisa tercapai," ucapnya.

    Namun, ia ingin mendorong untuk pemerintah dapat meningkatkan konsumsi dan penghasilan masyarakat menggunakan sisa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hal itu perlu dilakukan, karena menurut Adhi industri makanan dan minuman sangat penting bagi perekonomian.

    "Kami berharap bagaimana pemerintah meningkatkan konsumsi masyarakat. Dengan cara sisa-sisa APBN ini difokuskan utk meningkatkan pendapatan masyarakat khususnya menengah bawah. Bisa meningkatkan konsumsi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi," tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.