Buruh Migran Kritik Pernyataan Perusahaan Jasa TKI Soal Remitansi

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum SBMI Hariyanto. Foto: dok.pribadi

    Ketua Umum SBMI Hariyanto. Foto: dok.pribadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Hariyanto mengkritik pernyataan Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa TKI Ayub Basalamah yang menyebut Perusahaan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) sebagai institusi terbesar penyumbang devisa ke negara setelah pemasukan negara dari sektor minyak dan gas bumi.

    Menurut Hariyanto, pernyataan Ayub tidak benar. “Dan berpotensi mencederai perasaan buruh migran Indonesia,” kata Hariyanto, Senin, 11 November 2019. Hariyanto menganggap yang menyumbangkan devisa bagi negara adalah buruh migran atau pekerja migran, bukan P3MI.

    Sebelumnya, Ayub mengatakan, “Apjati akan terus membantu pemerintah dalam  menyumbangkan devisa melalui penempatan PMI (pekerja migran Indonesia) yang terampil ke seluruh manca negara. Mengutip data Bank BRI sampai 2019 tercatat total volume transaksi remitansi sebesar Rp 218 triliun.”

    Hariyanto menganggap pernyataan Ayub keliru karena  buruh migran adalah subyek penyumbang devisa negara, bukan P3MI. Karena itu, kata dia, buruh migran disebut pahlawan devisa negara.

    Bahkan,  ujar Hariyanto, tak jarang P3MI atau PJTKI justru memeras buruh migran sehingga buruh migran menjadi korban overcharging (pembebanan biaya yang berlebihan) yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

    Menanggapi pernyataan Hariyanto, Ayub mengatakan yang menyumbangkan devisa negara kedua terbesar setelah sektor migas adalah buruh migran melalui P3MI. Adapun buruh migran yang bermasalah seperti menjadi korban overcharging, menurut Ayub, jumlahnya tidak sampai 3 persen. Apjati pun mengeluarkan P3MI dari keanggotaan Apjati jika bermasalah menangani buruh migran.

    KODRAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.