Gubernur Kalbar: Dengan PLTN, Elektrifikasi Bisa 100 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah mahasiswa demo tolak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Jalan Pahlawan Semarang, (26/4). Aksi tersebut untuk mengingatkan pada pemerintah bahaya atas tragedi kebocoran PLTN Chernobyl. Tempo/Budi Purwanto

    Sejumlah mahasiswa demo tolak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Jalan Pahlawan Semarang, (26/4). Aksi tersebut untuk mengingatkan pada pemerintah bahaya atas tragedi kebocoran PLTN Chernobyl. Tempo/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Jakarta -  Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji menilai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) menjadi salah satu solusi terbaik untuk meningkatkan elektrifikasi secara menyeluruh di daerah.  

    "Nuklir itu bagus, selain itu biayanya juga terjangkau sehingga industri juga bisa mencapai keekonomian," kata Sutarmidji kepada Antara di Jakarta, Senin 11 November 2019.

    Dia menjelaskan elektrifikasi Kalimantan Barat, masih di kisaran 86 persen. Dengan pengembangan PLTN, potensi elektrifikasi 100 persen bisa tercapai.

    "Kalau Kalbar beli listrik dari Malaysia, itu sebesar 220 MW, nah Malaysia pembangkit listrik dengan hydro, jadi murah 3 sen dolar per kwh, kemudian dijual ke kita 7 sen, sampai ke masayarakat 11 sen, sehingga industri kita kurang kompetitif," katanya.

    Ia mencontohkan untuk industri bauksit, harga keekonomian harusnya 6 sen dolar/kwh, namun yang terjadi sekarang adalah harganya 12 sen dolar/kwh, tentu dengan alasan tersebut PLTN menjadi harapan energi murah di Kalbar.

    Sebelumnya, Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN) Suryantoro mengatakan Provinsi Kalimantan Barat membutuhkan keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang bertujuan mengatasi persoalan rendahnya elektrifikasi di daerah itu.

    "Kalbar membutuhkan adanya PLTN untuk mengatasi masalah kelistrikan yang masih rendah dan juga menginginkan pasokan listrik yang bersih, salah satunya dengan memanfaatkan PLTN," ujar Suryantoro.

    Selain untuk mengatasi masalah kelistrikan yang masih rendah, pembangunan PLTN tersebut juga bertujuan untuk mengolah sumber daya alam bauksit yang banyak di daerah itu. Saat ini, bauksit tersebut ditambang dan langsung dijual. Pihak pemerintah daerah menginginkan agar bauksit tersebut diolah menjadi alumina dan kemudian aluminium.

    "Untuk proses pengolahan itu membutuhkan energi yang besar. Energi itu didapatkan dari PLTN," tambah dia.

    Dia menambahkan PLTN yang akan dibangun berupa prototipe atau purwarupa dengan kapasitas 100 MW. Proses pembangunannya akan dimulai pada 2020 hingga 2024. Pihak BATAN, kata dia, mendukung pembangunan PLTN tersebut dalam bentuk dukungan teknis mulai dari evaluasi tapak, pembangunan PLTN, dan sebagainya.

    Menurut dia, purwarupa PLTN komersil tersebut merupakan hasil riset yang dikembangkan oleh BATAN dan menjadi salah satu prioritas riset nasional ke depan. "Saat ini hasil riset harus dalam bentuk purwarupa, sehingga hasilnya bisa dirasakan oleh masyarakat."

    Sebelumnya, hasil survei menunjukkan sekitar 87 persen masyarakat Kalimantan Barat mendukung pembangunan PLTN di daerah tersebut.
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.