Meniru Gaya Investasi Nasabah Kaya

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kebanggaan Saat Menjadi Nasabah Prioritas (Ilustrasi Bank BTN)

    Kebanggaan Saat Menjadi Nasabah Prioritas (Ilustrasi Bank BTN)

    TEMPO.CO, Jakarta - Diversifikasi portofolio investasi Ika Vivi, pegawai swasta umur 33 tahun, akhirnya bertambah dengan koleksi barunya, obligasi negara ritel Indonesia (ORI) seri ke-16 atau ORI016. Sejak setahun lamanya, ia memang ingin membeli obligasi, produk keuangan yang aman dan memiliki imbal hasil lebih tinggi dari deposito. Koleksi barunya itu melengkapi, aset portofolionya yang berisi saham, reksa dana dan asuransi. 

    Vivi menempatkan aset portofolio ke tempat yang berbeda-beda untuk menghindari risiko investasi yang nilai bisa naik turun. "ORI ini memang untuk investasi dana pensiun gua," kata dia, Senin 28 Oktober 2019. Uji Medianti, karyawan swasta umur 25 tahun, juga berinvestasi di obligasi ritel, seri SBR005. Uji memilih obligasi dibandingkan saham karena risiko lebih rendah dan imbal hasil pasti.

    Pengelolaan investasi ala Vivi dan Uji, mirip dengan layanan wealth management yang disediakan perbankan. Bedanya investasi Vivi dilakukan secara mandiri, sedangkan layanan wealth management khusus disiapkan perbankan untuk mengelola keuangan dan kekayaan dalam bentuk beragam produk keuangan. 

    Layanan wealth management BII Platinum Access di Permata Hijau, Jakarta, Selasa (16/12). BII Platinum Access menyediakan produk investasi yang dapat memenuhi kebutuhan finansial nasabah. TEMPO/Wahyu Setiawan

    Perbankan memiliki petugas-petugas khusus dengan berbagai kompetensi dan pengalaman tertentu untuk mendampingi nasabah memilih produk keuangan. Salah satu produknya adalah obligasi atau surat utang, reksa dana dan produk asuransi. Tak semua nasabah mendapatkan fasilitas mewah ini. Biasanya nasabah dengan jumlah dana kelolaan lebih dari Rp 1 miliar yang menikmati layanan premium ini. 

    Di era digital, semua industri, termasuk perbankan, mengalami perubahan. Digitalisasi telah memperluas pasar lebih besar tanpa batasan ruang dan waktu. Selama ada layanan internet dan listrik, semua orang mempunyai hak sama dalam memperoleh akses. Data dari Hootsuite dan We are social tahun 2019, menyebutkan 56 persen dari 268 juta penduduk Indonesia adalah pengguna internet dan media sosial. Hootsuite adalah perusahaan platform media sosial dari Kanada, sedangkan We are social dari Inggris.

    Belum lagi, Badan Pusat Statistik mencatat angkatan kerja kini didominasi generasi X (penduduk yang lahir pada tahun 1965 hingga 1976) 43 persen dan generasi milenial (lahir di tahun 1977 hingga 1995) 39 persen. Kedua generasi tersebut akrab terpapar dengan layanan digital dalam aktivitas sehari-hari. 

    Layanan perbankan pun serba digital, mulai dari pembukaan rekening baru, pemberian pinjaman hingga layanan wealth management. BCA, salah satu bank yang memiliki layanan digital Wealth Management dalam bentuk aplikasi. Aplikasi tersebut bernama Welma, diluncurkan 8 Oktober 2019 lalu. Semua nasabah termasuk nasabah prioritas maupun biasa, dapat menikmati layanan di aplikasi ini. Salah satunya bertransaksi produk reksa dana dan obligasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.