Riset ADB: 22 Juta Penduduk RI Kelaparan Kronis, Kata Kementan?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga desa berdiri di dekat makanan mereka jelang ritual

    Warga desa berdiri di dekat makanan mereka jelang ritual "sedekah bumi" untuk meminta hujan, di Desa Karang Jati di Banjarnegara, Indonesia 23 Oktober 2015. Kekeringan dan hujan yang datang terlambat dikhawatirkan mengakibatkan gagal panen dan kelaparan. REUTERS/Nicholas Owen

    TEMPO.CO, Jakarta - Riset terbaru Bank Pembangunan Asia atau ADB mengungkap data bahwa 22 juta penduduk Indonesia masih menderita kelaparan kronis selama periode 2016–2018. Dalam publikasi berjudul 'Policies to Support Investment Requirements of Indonesia's Food and Agriculture Development During 2020-2045' disebutkan puluhan juta penduduk menderita kelaparan kronis meski sektor pertanian dan ekonomi mencatatkan kemajuan yang cukup signifikan.

    ADB mencatat masih banyak penduduk Indonesia yang menggantungkan hidup pada pertanian tradisional. Mereka ini yang terjebak dalam aktivitas berproduktivitas rendah dengan bayaran minim.

    Kebanyakan dari mereka, kata ADB, kesulitan mengakses makanan dalam jumlah cukup dan rawan menderita stunting. "Kondisi ini membuat mereka terjebak dalam lingkaran kemiskinan tanpa ujung. Sekitar 22 juta penduduk Indonesia menderita kelaparan selama 2016 sampai 2018,” tulis laporan tersebut.

    Terlepas dari tren pertumbuhan produksi dan ketersediaan pangan serta meningkatnya pendapatan rumah tangga, kesenjangan akses pangan masih terjadi di Indonesia. Laporan ini pun menyoroti keamanan pangan yang masih menjadi masalah.

    Berdasarkan laporan Global Food Security Index (GFSI) yang dirilis Economist Intelligence, pada 2018 Indonesia menempati peringkat ke-68 dari 113 negara. Posisi ini lebih rendah dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Singapura (1), Malaysia (40), Thailand (54), dan Vietnam (62). “Capaian rendah ini banyak disebabkan tingkat akses makanan yang rendah di Indonesia.”

    Permasalahan ini dinilai dapat diurai lewat sejumlah kebijakan. ADB menyebutkan Realokasi subsidi pupuk dan kebijakan peningkatan investasi pemerintah dalam penelitian pertanian, infrastruktur pedesaan, dan irigasi dapat menghapus kelaparan di Indonesia pada 2034.

    Menanggapi hal ini, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi membantah hasil riset ADB tersebut. Kalaupun ada, menurut dia, adalah kondisi 88 wilayah kabupaten yang berstatus rentan rawan pangan. “Tidak ada yang namanya kelaparan," kata Agung dalam keterangan resmi, Jumat, 8 November 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.