Sandiaga Uno Ingatkan Jokowi Soal Pengembangan Energi Bersih

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan calon Wakil Presiden Sandiaga Uno menyampaikan keterangan saat menerima kedatangan pimpinan MPR di kediamannya, Jakarta, Senin, 14 Oktober 2019. Sandiaga memberikan masukan bagi mereka dalam menjalankan tugas MPR menyosialisasikan Empat Pilar MPR. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Mantan calon Wakil Presiden Sandiaga Uno menyampaikan keterangan saat menerima kedatangan pimpinan MPR di kediamannya, Jakarta, Senin, 14 Oktober 2019. Sandiaga memberikan masukan bagi mereka dalam menjalankan tugas MPR menyosialisasikan Empat Pilar MPR. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno mengingatkan pemerintah Presiden Joko Widodo atau Jokowi soal masalah yang banyak muncul dalam pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) atau energi bersih. Padahal, pemerintah memasang target EBT pada bauran energi nasional pada 2025 nanti sebesar 23 persen.

    “If business as usual, kalau kebijakannya itu-itu saja, enggak bakal nyampe, harus out of the box,” kata Sandiaga saat ditemui dalam acara EBTKE Conex di Jiexpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat, 8 November 2019.

    Masalah ini sebelumnya telah diungkapkan Institute for Essential Services Reform (IESR). Menurut lembaga ini, target penambahan kapasitas pembangkit EBT akan sulit dicapai. Sebab, selama 2014-2018, kapasitas terpasang hanya bertambah 1,15 GW.

    Sementara dengan target penambahan 16 GW hingga 2025, pemerintah perlu memastikan ada 3,2 GW kapasitas terpasang per tahun. Pada 2025 nanti pemerintah menargetkan 23 persen bauran EBT. Namun saat ini porsi EBT baru sekitar 11 persen.

    Menurut Sandiaga, potensi sumber daya EBT di Indonesia sebenarnya tidak kurang. Saat ini, terdapat potensi sebesar 405.834 MW. Namun, kapasitas terpasang sampai saat ini baru mencapai 7.783 MW.

    Politikus Partai Gerindra ini mengatakan, berbagai persoalan terjadi seperti regulasi yang sering berubah hingga pembiayaan dari perbankan lokal yang sulit. Menurut Sandi, pernah ada satu proyek EBT yang sudah melakukan tanda tangan penyaluran kredit, sudah mulai akan dibangun, tapi tiba-tiba terjadi perubahan regulasi di kementerian. “Ibarat main bola, tiba-tiba gawangnya dipindah,” kata dia.

    Selain itu, pengembangan EBT selama ini lebih banyak dimotori kredit dari perbankan dan lembaga luar negeri. Di antaranya seperti Asian Development Bank (ADB), International Finance Corporation (IFC), Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC), hingga Japan Bank for International Cooperation (JIBC). “Perbankan tidak terbiasa (pendanaan EBT), jadi bunganya tinggi, jangka waktu pendek, maka kita belajar dari mereka (perbankan dan lembaga internasional),” kata dia.

    Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan bahwa pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia baru mencapai 8 persen atau sekitar 32 Giga Watt.

    “Kita memiliki banyak sumber-sumber energi yang harus kita manfaatkan, seperti geo-thermal, sumber daya air, dan lain-lain. Sumber-sumber energi di Indonesia kurang lebih ada 400 Giga Watt dan terealisasi baru sekitar 8 persen atau 32 Giga Watt,” ujar Arifin di Jakarta, Rabu, 6 November 2019.



    FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.