Survei OJK: Literasi Keuangan 2019 Meningkat, Tembus 76,19 Persen

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keluarga berkostum superhero mengunjungi kantor Otoritas Jasa Keuangan untuk berkonsultasi kepada karyawan OJK, Surakarta, Jawa Tengah, Kamis, 24 Oktober 2019. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berharap Dewan Perwakilan Rakyat untuk segera merancang Undang-undang perlindungan data pribadi yang sudah tersusun pada tahun depan guna melindungi nasabah dengan semakin meningkatnya penetrasi pinjaman online.  TEMPO/Bram Selo Agung Mardika

    Keluarga berkostum superhero mengunjungi kantor Otoritas Jasa Keuangan untuk berkonsultasi kepada karyawan OJK, Surakarta, Jawa Tengah, Kamis, 24 Oktober 2019. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berharap Dewan Perwakilan Rakyat untuk segera merancang Undang-undang perlindungan data pribadi yang sudah tersusun pada tahun depan guna melindungi nasabah dengan semakin meningkatnya penetrasi pinjaman online. TEMPO/Bram Selo Agung Mardika

    TEMPO.CO, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan atau OJK baru saja merampungkan kegiatan Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLIK) yang ketiga pada 2019. Dari survei tersebut, OJK mencatat bahwa indeks inklusi keuangan menembus angka 76,19 persen, atau naik 8,39 persen dari sebelumnya 67,8 persen pada 2016.

    Selain inklusi keuangan, hasil survei OJK juga mencatat bahwa indeks literasi keuangan juga ikut meningkat. Menurut hasil survei, indeks literasi keuangan mencapai 38,03 persen atau naik 8,33 persen dari posisi tahun 2016 yang mencapai 29,7 persen.

    Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara mengatakan survei tersebut menunjukkan selama 3 tahun terakhir, terjadi peningkatan literasi atau pemahaman keuangan di masyarakat. Serta peningkatan akses masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan atau inklusi keuangan.

    "Peningkatan itu merupakan hasil kerja bersama antara pemerintah, OJK, Kementerian/lembaga terkait, Industri Jasa Keuangan dan berbagai pihak lain, yang terus berusaha secara berkesinambungan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di masyarakat,” kata Tirta dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis 7 November 2019.

    Menurut Tirta, indeks literasi dan inklusi keuangan tersebut telah mencapai target yang diharapkan pemerintah sebesar 75 persen pada 2019. Hal ini sesuai dengan target yang telah dicanangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 82 tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI).

    Adapun, survei ini melibatkan 12.773 responden di 34 provinsi dan 67 kota/ kabupaten dengan mempertimbangkan gender dan strata wilayah perkotaan/perdesaan. Sama seperti suvei 2016, SNLIK 2019 juga menggunakan metode, parameter dan indikator yang sama.

    Yakni, indeks literasi keuangan yang terdiri dari parameter pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap dan perilaku. Sementara indeks inklusi keuangan menggunakan parameter penggunaan (usage).

    Sementara itu, jika didedah berdasarkan strata wilayah, untuk perkotaan indeks literasi keuangan mencapai 41,41 persen dan inklusi keuangan sebesar 83,60 persen. Sedangkan indeks literasi dan inklusi keuangan perdesaan adalah 34,53 persen dan 68,49 persen.

    Suvei OJK juga mengungkap bahwa berdasarkan gender indeks literasi keuangan dan inklusi keuangan laki-laki sebesar 39,94 persen dan 77,24 persen. Angka itu, relatif lebih rendah jika dibanding perempuan yang mencapai sebesar 36,13 persen dan 75,15 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.