OJK: Dalam 3 Tahun Inklusi Keuangan Meningkat 8,39 Persen

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Departemen Literasi & Inklusi Keuangan OJK, Agus Sugiarto, Anggota Dewan Komisioner Edukasi & Perlindungan Konsumen, Kusumaningtuti S. Soetiono, Deputi Komisioner Edukasi & Perlindungan Konsumen, Anggar B. Nuraini dalam peluncuran e-book literasi keuangan di Cikini, Jakarta Pusat, 6 Juli 2017. Tempo/Aghniadi

    Kepala Departemen Literasi & Inklusi Keuangan OJK, Agus Sugiarto, Anggota Dewan Komisioner Edukasi & Perlindungan Konsumen, Kusumaningtuti S. Soetiono, Deputi Komisioner Edukasi & Perlindungan Konsumen, Anggar B. Nuraini dalam peluncuran e-book literasi keuangan di Cikini, Jakarta Pusat, 6 Juli 2017. Tempo/Aghniadi

    TEMPO.CO, Surabaya - Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) ketiga yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun ini menunjukkan indeks literasi keuangan mencapai 38,03 persen dan indeks inklusi keuangan 76,19 persen.

    "Dengan sinergi dan kerja keras tersebut target indeks inklusi keuangan yang dicanangkan pemerintah melalui Perpres Nomor 82 tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif sebesar 75 persen pada 2019 telah tercapai," kata anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara dalam diskusi dengan sejumlah redaktur media massa di Surabaya, Kamis, 7 November 2019.

    Menurut dia, angka hasil survei OJK 2019 itu meningkat dibanding hasil survei OJK 2016 di mana indeks literasi keuangan 29,7 persen dan indeks inklusi keuangan 67,8 persen.

    Dengan demikian dalam 3 tahun terakhir terdapat peningkatan pemahaman keuangan (literasi) masyarakat sebesar 8,33 persen, serta peningkatan akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan (inklusi keuangan) sebesar 8,39 persen.

    “Peningkatan tersebut merupakan hasil kerja keras bersama antara Pemerintah, OJK, Kementerian/lembaga terkait, Industri Jasa Keuangan dan berbagai pihak lain, yang terus berusaha secara berkesinambungan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di masyarakat,” kata dia.

    Survei OJK 2019 ini mencakup 12.773 responden di 34 provinsi dan 67 kota/ kabupaten dengan mempertimbangkan gender dan strata wilayah perkotaan/perdesaan.

    Sebagaimana pada 2016, SNLIK 2019 juga menggunakan metode, parameter dan indikator yang sama, yaitu indeks literasi keuangan yang terdiri dari parameter pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap dan perilaku, sementara indeks inklusi keuangan menggunakan parameter penggunaan (usage).

    Berdasarkan strata wilayah, kata Tirta, untuk perkotaan indeks literasi keuangan mencapai 41,41 persen dan inklusi keuangan masyarakat perkotaan sebesar 83,60 persen, sementara indeks literasi dan inklusi keuangan masyarakat perdesaan adalah 34,53 persen dan 68,49 persen.

    Hasil survei juga menunjukkan bahwa berdasarkan gender indeks literasi dan inklusi keuangan laki-laki sebesar 39,94 persen dan 77,24 persen, relatif lebih tinggi dibanding perempuan sebesar 36,13 persen dan 75,15 persen.

    OJK, kata Tirta, akan menggunakan hasil survei literasi keuangan 2019 ini untuk penyempurnaan strategi pengembangan literasi keuangan nasional yang lebih efektif dan tepat sasaran.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.