Otoritas Bandara Soetta Pastikan Sriwijaya Air Masih Beroperasi

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Maskapai di Indonesia yang juga menggunakan pesawat Boeing 737 Max 8 yakni Sriwijaya Air. Di seluruh dunia dilaporkan terdapat 350 unit Boeing 737 MAX 8. Saat ini, selain negara juga ada maskapai yang memutuskan untuk melarang pesawat tersebut terbang. Dok.TEMPO/Fahmi Ali

    Maskapai di Indonesia yang juga menggunakan pesawat Boeing 737 Max 8 yakni Sriwijaya Air. Di seluruh dunia dilaporkan terdapat 350 unit Boeing 737 MAX 8. Saat ini, selain negara juga ada maskapai yang memutuskan untuk melarang pesawat tersebut terbang. Dok.TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO,Tangerang - Branch Communication Manager Bandara Soekarno-Hatta, Haerul Anwar memastikan bahwa maskapai Sriwijaya Air masih beroperasi di Bandara Soetta. "Kami cek ke OIC dan Sriwijaya masih beroperasi sesuai jadwal," katanya kepada Tempo di Tangerang, Kamis 7 November 2019.

    Terkait dengan video ratusan penumpang Sriwijaya yang protes karena terlantar di Terminal 2F sampai siang ini, Haerul menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi karena masalah ketidakpastian jadwal penerbangan, bukan karena Sriwijaya Air sudah tidak beroperasi di Bandara Soekarno Hatta.  "Belum begitu didalami penyebabnya, tapi karena ketidakjelasan waktu terbang," kata Haerul.

    Sebelumnya beredar kabar bahwa penerbangan Sriwijaya tujuan Jakarta-Medan tiba tiba dibatalkan tanpa alasan yang jelas. "Saya kaget juga mendapatkan informasi pembatalan beberapa jam sebelum terbang," ujar salah satu calon penumpang Sriwijaya Bandara Soekarno-Hatta -Medan, berinisial V kepada Tempo, Kamis 7 November 2019.

    V mengaku membeli tiket Sriwijaya tujuan Jakarta-Medan pada tiga pekan lalu melalui aplikasi Traveloka. Namun, pada Rabu malam 6 November 2019 sekitar pukul 19.30, ada informasi dari Travelola bahwa penerbangan yang dijadwalkan Kamis pagi 7 November, pukul 05.00 dibatalkan. "Informasi pembatalan dari Traveloka bukan dari Sriwijaya," kata V.

    Karena penasaran dan ingin mengetahui penyebab pembatalan penerbangan itu, V mencoba menghubungi customer service maskapai penerbangan itu. Namun, hingga kini kata dia tidak ada pemberitahuan resmi dari Sriwijaya. "Saya baru mendapatkan penerbangan pasti dibatalkan dari pihak Traveloka tadi malam pukul 22.," katanya.

    Akhirnya V buru buru mengurus refund tiket yang dibantu pihak Traveloka. Dia melanjutkan perjalanan ke Medan menggunakan maskapai lain.

    Seperti diketahui, hubungan bisnis antara PT Sriwijaya Air (Sriwijaya) dan PT Citilink Indonesia kembali tidak akur karena adanya sejumlah masalah yang membuat keduanya memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama operasi. Akibatnya, induk usaha Citilink, Garuda Indonesia, memastikan bahwa kini Sriwijaya Air tidak lagi tergabung dalam grupnya.

    “Kami merujuk pada status terkini kerja sama manajemen antara Sriwijaya dan Citilink, anak usaha Garuda Indonesia. Karena ada sejumlah masalah di mana kedua pihak belum bisa diselesaikan. Dengan berat hati, kami menginformasikan bahwa Sriwijaya melanjutkan bisnisnya sendiri,” kata Direktur Teknik dan Layanan Garuda Iwan Joeniarto dalam keterangannya yang beredar di Jakarta, Kamis.

    Dengan demikian, lanjut Iwan, Sriwijaya Air tidak lagi menjadi anggota Garuda Indonesia Group dan hubungan dengan Sriwijaya Group akan kembali berdasarkan business to business (B to B).

    Sebelumnya, Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air Group menjalin kerja sama operasi seiring dengan kondisi keuangan perusahaan maskapai nasional swasta itu yang tidak mendukung.
    Dalam prosesnya, pada September hubungan bisnis itu mengalami guncangan yang menyebabkan susunan direksi Sriwijaya dirombak dan mengundurkan diri.

    Namun, akhirnya Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air kembali rujuk pada Oktober lalu, dengan alasan mempertimbangkan tiga hal. Pertimbangan itu yakni mengedepankan keselamatan, mempertimbangkan kepentingan pelanggan, dan menyelamatkan aset negara.

    JONIANSYAH HARDJONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.